• home
  • Getting started
  • CSS
  • Components
  • JavaScript
  • Customize

Attar Van Rumy

Dengan menyebut nama ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang

Attarvanrumy
  • Link
  • Link
  • Dropdown
    • Action
    • Another action
    • Something else here
    • Separated link
    • One more separated link
  • Link
  • Dropdown
    • Action
    • Another action
    • Something else here
    • Separated link
  • Getting started
  • CSS
  • Components
  • JavaScript
  • Customize
  • Dropdown
    • Action
    • Another action
    • Something else here
    • Separated link

Jump!!!

Tidak ada komentar :
 
Wednesday, July 26th, 2006

9 July 2006, St. Petersburg

Img_1958

Hari minggu, keluarga ini pun pergi ke liturgi di St. Petersburg. Bedanya liturgi di sini dibanding yang di Moskow, adalah ga ada Father John, sehingga yang mimpin adalah seorang pendeta muda bernama Father German.

Sehabis liturgi, Father German bilang bahwa dia berharap saya dan keluarga Father Lavr pergi ke kantor pusat mereka: sebuah flat di bangunan tua coklat di lingkungan yang berdebu, panas, dan sepi.

Perasaan kayak di film The Matrix muncul lagi. Tapi memang itulah tempatnya, ketika saya melihat tulisan di pintu utamanya: Russian Spiritual Centre. Di dalam, orang2 yang senyum2-sendiri itu muncul lagi. Kami langsung dijamu makanan yang sangat meyegarkan seabis jalan di St.Petersburg yang hari ini lebih panas dari Jakarta pun: 38 derajat Selsius.

Father German tiba2 masuk dengan jubah coklatnya. Dari matanya, terasa bahwa orang ini akan memberikan percakapan yang inspiring ke kamu. Father German duduk dan kita mulai ngobrol basa-basi tentang perjalanan, dalam bahasa Inggris, akhirnya. Hingga akhirnya, Father German pun bercerita tentang pertemuan luar biasanya dengan Syeikh Nazim al-Haqqani, pemimpin orde sufisme Naqshbandiyya di Cyprus. Yang sebetulnya, Master Yoda saya juga, hehe..

Suatu hari 2 tahun yang lalu, Father German dan Father Timothy bertualang ke Siprus untuk menemui sang master Sufi. Dengan susah payah: naik feri dari Turki, melewati gurun pasir, mencari2 rumah beliau di sebuah desa di tengah gurun, akhirnya mereka pun sampai di rumah sang Syeikh. Sebuah rumah sederhana di atas bukit yang dikelilingi kebun lemon, di sebuah desa in the middle of nowhere. Tapi ke situlah banyak orang2 berziarah, dari ulama2 setempat hingga para ’pencari’ dari sepenjuru benua.

Mereka berdua pun bertemu sang Syeikh, kata Father German selanjutnya, di teras depan rumah beliau. Sang Syeikh melihat mereka, membaca mereka. Pertama2 pada Father German, dan sekonyong2 berteriak ”Jump!!”

Father German bingung, jump? Lompat adalah hal terakhir yang dapat mereka bayangkan setelah perjalanan sulit sebelumnya. Para ulama bersorban kontan mengelilingi mereka, penasaran dengan yang terjadi. Syeikh Nazim masih melihat dengan matanya yang tajam, dan sekonyong2 berteriak lagi, ”Jump!!” Father German bingung, tapi kemudian, sebuah ilham mendatanginya. Hmm.. dia memaksudkan lompat yang lain..

”Maka lompatlah aku, Marina, di situ, di tengah2 ulama2 tua besar yang penasaran. Gila? Ya, tapi memang begitulah adanya. Kamu harus sedikit gila di hadapan Tuhan. Tidak mungkin tetap sadar dan dingin di hadapan KebesaranNya di atas. Seperti rayap2 yang gila akan sinar lilin dan ingin terbakar di dalamnya.”

Saya melongo terkesima, makanan2 dan mentega meleleh di antara kita, cuaca di luar masih sangat panas, tetapi ruang kayu itu tetap berpendar dalam kekaguman. ”Aku lompat karena ketika itu aku berpikir, apa yang diinginkan Syeikh Nazim bukan hanya lompat biasa, beliau ingin kami lompat menggapai ’surga’! Maka aku pun lompat, tapi Syeikh Nazim terus berteriak, ”Jump!! Higher!!” Aku lompat sekuat tenaga, tetap Syeikh masih belum puas. Spirit saya sudah lompat setinggi2nya, menggapai langit sedemikian rupa, tapi masih tetap belum cukup..”

”Hingga kemudian, aku berpikir lagi, apa yang kurang? Aku sudah lompat setinggi mungkin. Tapi kemudian, tiba2 aku sadar, saya masih bisa lompat lebih tinggi lagi.. Lompat sendiri belum lah cukup, aku harus.. lompat bersama semua orang di sini.. Sehingga kemudian, secara spirit aku pun berusaha membawa ulama2 di situ untuk lompat juga..! Lompat bersama ke surga! ”Jump!! Higher!!! Higher!!” Sang Syeikh masih berteriak. Aku pun hampir kehilangan kesadaran, lompat bersama spirit semua ulama yang ada di situ, berusaha menggapai langit..”

“Ck ck ck..” semua orang di dalam ruang kayu itu geleng2 dalam kekaguman.

“Akhirnya, sang Syeikh pun berhenti berteriak, dan beliau mengamatiku sambil mengangguk2, ”Hmm..” Beliau tiba2 berteriak kepada beberapa ulama yang ada di situ, ”You! You! Take their luggage!!” Bisakah kau bayangkan? Ulama2 besar2 yang terhormat itu tiba2 disuruh bawa koper?“

“Syeikh Nazim sering melakukan itu pada murid2nya, untuk mengetes ego mereka..“

”Ya, dan karena mereka ragu untuk melakukannya, Syeikh Nazim mulai menendang pantat beberapa dari mereka. Hahaha! ”Take their luggage! They are my grandsons!!” Benar2 seseorang yang ‘kuat’, seperti singa.”

”Ck ck ck,” hatiku kagum luar biasa.

“Kami pun tinggal di sana sekitar 1 minggu, hingga akhirnya kami pun membawa sebuah kabar kepada beliau. Bahwa pemimpin kami, Archbishop John, akan datang juga untuk mengunjungi beliau. Dan, di luar dugaan kami, semenjak kabar itu, Syeikh Nazim tidak henti2nya merasa gembira. Beliau berteriak2 sambil lompat2 kecil, ”Holy John! Holy John is coming to me!!”

“Really..?” saya geleng2 kepala tidak dapat membayangkan indahnya kisah ini.

“Ya. Karena ternyata, sekitar 20 tahun yang lalu, Syeikh Nazim pernah mendapat sebuah penglihatan, bahwa seorang Kristen akan datang kepadanya. Beliau berkata sudah banyak orang Kristen yang datang, tapi mereka bukanlah orangnya. Ini adalah hal yang sangat ditunggu2nya, karena well.. ini akan menjadi bagian dari..”

“Second coming of Christ.”

“Exactly. In the end of the days, Christ will come again into this world.”

“Muslim memang percaya itu.”

“ Ya. Di hari2 akhir, potensi yang ada di setiap manusia: kemurnian, enlightenment, Holy Grail, apapun kau memanggilnya, yang merupakan esensi dari Kristus sendiri, akan terbangkitkan lagi pada diri banyak orang. Kemurnian yang.. Father John sendiri, atau orde spiritualitas lain, usahakan untuk lahir dalam setiap muridnya.”

”Ck ck ck.. Lalu, ketika Father John akhirnya datang pada Syeikh Nazim, apa yang terjadi? Apa yang mereka bicarakan?” cerocos saya antusias.

”Oh.. they hardly speak at all..It was a.. Zen meeting..”

“Ceritakan pada saya, Father..”

“Itu adalah.. pertemuan dua garis besar. Dua sekolah mistik besar. Father John datang ke rumah Syeikh beberapa bulan selanjutnya, dan Syeikh Nazim sekonyong2 diam.. memperhatikan Father John.”

“Father John bertanya, ‘Kenapa Anda ngeliatin saya terus?’ dan sang Syeikh menjawab dengan galak, “I am reading you!!” Syeikh Nazim selalu memberikan tes ini kepada orang2 yang datang kepadanya, untuk mengetahui apakah orang itu adalah orang yang ditunggu2nya. Dan sepertinya, beliau telah menemukannya… Father John menjawab, “Bacalah saya, banyak orang melakukan itu tapi mereka tidak berhasil. Tidak ada apa2 dalam diri saya. I am empty.”

“Dan Syeikh Nazim pun sedikit terkejut dengan jawaban itu, beliau menjawab, “No, I am empty..!””

“I am empty too.. I am nothing..” jawab Father John lembut.

“ I am nothing too! I am empty!!” Syeikh Nazim masih menggebu2.

“ I am empty too.. I am.. crazy..” Father John sudah merasa sangat dekat dengan sang Syeikh.

“ I am crazy too! Hahaha.. We are both crazy!!” sang Syeikh kontan terkekeh2 pada orang2 di situ: ulama2 dan pendeta yang memenuhi ruangan itu, yang beberapa mengharapkan sebuah pembicaraan ’penting’ dan berbobot, tapi alas.. hanya dua orang ’gila’ di depan mereka.

”Dan begitulah sejak saat itu, mereka berdua duduk tidak terpisahkan, berpegangan tangan setiap saat. Seperti dua anak kecil bertemu sahabat yang sangat dicintainya. Father John suatu saat mempraktekkan doa praktikal kami di situ, dan Syeikh Nazim hanya dapat menyaksikan dengan mata berkaca2, “Oh..” Melihat entah apa mungkin turun dari langit..”

“I want to eat you! “ suatu saat sang Syeikh berkata. “Berarti kamu akan jadi Father John lain, hehehe..“ jawab Father John. “Berapa banyak pengikutmu yang dapat menelan dan mengapresiasimu sepenuhnya?? Berapa banyak pengikutmu yang tidak hanya mencintaimu tapi juga menjadi??“

(Seperti sebuah perkataan Zen: Instead of quoting the Buddha, be the Buddha! Even if you meet him in the street, kill him! (Dibandingkan menjadi keterikatan lain..))

Dan Father John pun kemudian akan menatap lekat2 dan memeluk Syeikh Nazim dengan erat, hampir menangis, ”Oh… God..God loves you so much ..!”

“Masya Allah..” saya cuma bisa geleng2 sepanjang cerita Father German. Keindahan tak terkatakan, ketika perbedaan pun bahkan tidak ada lagi. (Bagaimana bisa dikatakan berbeda, toh mereka hanya kekosongan..)

Saya ingat sebuah kisah lain, suatu hari di Jakarta ketika Syeikh Nazim datang ke sana pada tahun 2000, seorang murid dari Naqshbandiyya bertanya pada beliau di sebuah acara ceramah, ”Syeikh, bagaimana kita tahu di tingkatan mana kita berada? Kalau kita shalat ini dan itu, akan ada di mana kita? Jika kita melakukan ini atau itu, berapa tingkatan kita akan turun?” Dan dia terus berbicara dan bertanya tentang segala derajat dan posisi ini.. Hingga akhirnya, di akhir pertanyaan, jawaban Syeikh Nazim cuma satu, ”Kamu ini hamba tingkatan, atau hamba Tuhan?”

…..
”Kalau benar2 cinta, sembah aja Dia, peduli amat kamu siapa dan ada di mana kamu sekarang..”
Read More

Kenangan KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi

9 komentar :
 

Pimpin Doa dengan Infus di Tangan

RIBUAN orang menangis histeris. Ini terjadi ketika jenazah Hadratus Syekh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi dimasukkan ke liang lahat, kemarin. Kiai dengan wajah sejuk itu dikenal sebagai imam dan guru Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Al-Usmaniyah yang sedang digandrungi jamaah. Kehadirannya dalam setiap majelis dzikir selalu diharapkan. Doa yang dipanjatkan selalu ditunggu jutaan jamaah Tarekat di seluruh Indonesia, bahkan sampai Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand.

Kiai Asrori -demikian ia biasa dipanggil--kemarin dini hari menghembuskan nafas terakhir. Penyakit kanker yang menghinggapi tubuhnya sejak tiga tahun lalu menyebabkan ia harus menyerah ke Sang Khalik. Jenazah pimpinan Pondok Pesantren Al Fitrah, Kedinding, Surabaya ini dimakamkan di kompleks pondoknya sekitar pukul 11.00 WIB. Meski sudah sakit lama, namun mening­galkan kiai kharismatis ini tetap saja mengagetkan para santrinya.

Saya mengenal pimpinan tertinggi tarekat ini sudah sejak lama. Bahkan, namanya selalu disebut-sebut ayah saya yang memang juga penganut tarekat ini. Namun, baru mengenal secara pribadi setelah diperkenalkan KH Imam Sughrowadi saat berlangsung manaqib dan zikir kubro di pondok pesantrennya di Blitar, tahun 2005. Setelah itu, beberapa kali saya mengikuti pertemuan khusus dengan para santri setiap habis salat Jumat di kediamannya.

Mengapa para jamaah begitu kehilang­an kiai kharismatis ini? Selain ia adalah imam tertinggi thariqah yang memiliki jamaah terbesar di Indonesia ini, Kiai Asrori juga sangat mencintai jamaahnya. Ini ditunjukkan ketika berlangsung dikir akbar dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke 714, tiga tahun lalu. Seperti diketahui, sejak tahun 2006, di Balaikota Surabaya selalu digelar zikir akbar yang dipimpin Kiai Asrori. Ini menjadi tradisi puncak kegiatan hari jadi sejak tahun itu.

Nah, memasuki tahun kedua, Kiai Asrori mulai menderita sakit kanker darah. Beberapa hari menjelang acara berlangsung, ia harus masuk rumah sakit. Maka, zikir akbar di balai kota itu pun terancam berlangsung tanpa keberadaan Kiai Asrori. Sebagai antisipasi, panitia menyiapkan jalur khusus kursi roda menuju panggung utama untuknya. Baru pagi hari menjelang acara berlangsung, didapat kepastian Kiai akan hadir di majelis zikir tersebut.

Seorang santri dekatnya bilang, ketika itu Kiai memutuskan untuk hadir kare­na kasihan sama jamaah. "Mereka itu datang dari berbagai kota ingin melihat wajah saya, ingin mengamini doa saya. Karena itu, meski bagaimana pun saya harus datang agar mereka tidak kecewa,'' katanya seperti ditirukan santri tersebut. Akhirnya, Kiai Asrori hadir di majelis itu dengan memakai kursi roda dan infus di tangan.

Begitu selesai berdoa, kiai pamit pulang. "Mohon maaf, saya sudah tidak kuat. Saya mohon pamit dulu untuk beristirahat,'' katanya dengan berbisik kepada saya. Kehadiran kiai di majelis zikir dalam keadaan sakit itu membuat puluhan ribu jamaah yang hadir menangis. Saat itu, saya melihat Menkominfo Prof Dr Mohammad Nuh yang hadir dan sejumlah habaib serta para santri terdekatnya menyeka air mata. Belakangan, Kiai Asrori juga seirng menghadiri acara zikir meski masih dalam keadaan sakit.

Dalam haul Akbar terakhir di Ponpes Alfitrah Kedinding bulan lalu, Kiai Asrori juga memimpin sendiri doanya. Hanya saja, tabung alat bantu pernafasan selalu tersedia di sampingnya. Tampaknya, haul bulan lalu itu merupakan haul pamitan beliau kepada para jamaahnya. Setelah itu, sakit beliau semakin parah. Beberapa jam menjelang subuh kemarin, kanker darah telah mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya dalam usia 52 tahun.

Acara haul tahunan ini dihadiri ratusan ribu jamaah dari berbagai kota dan luar negeri. Para jamaah biasanya ditampung di rumah-rumah di sekitar pondok. Untuk makan para jamaah, juga disiapkan ratusan ribu bungkus nasi. Di antaranya juga merupakan sumbangan para warga di sekitar pondok. Pada haul ter­akhir kemarin, hadir ulama besar dari Makkah, Habib Umar Al-Jaelani.

Dia adalah cucu Syekh Abdul Qadir Jaelani, ulama yang menjadi panutan pa­ra penganut tarekat. Dalam setiap haul, kisah hidup ulama yang dipercaya sebagai wali Allah ini dibacakan. Kisah itu dikenal dengan kitab Manaqib. Manaqib ini dibaca bersamaan dengan salawat dan kisah-kisah Nabi Muhammad.

Kiai Asrori lahir di Surabaya, 17 Agustus 1957. Ini berarti meninggal sehari se­telah ulang tahunnya ke 52 kemarin. Dia adalah putra kiai besar di wilayah Surabaya utara, KH Usman Al-Ishaqi. Ayahnya juga seorang mursyid tarekat. Setelah menikahi Ibu Nyai Muthia Setiyawati, Kiai Asrori dikaruniai tiga orang putra dan dua orang putri. Putra terbesarnya kini masih studi di perguruan tinggi.

Kiai Asrori meninggalkan kita semua dalam usia yang relatif masih muda. Namun, ia telah berhasil menjadi panutan dari jutaan jamaah tarekat di berbagai nusantara dan negara-negara lainnya. Akankah lahir kiai pengganti beliau yang bisa menjadi penutan kita semua? Sungguh Kiai, kami pasti akan rindu dengan fatwa-fatwa dan wajah sejukmu.
Read More

Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi

8 komentar :
Orong-orong

Senin, 12 Oktober 2009
Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi

Tergelitik hati untuk menuliskan tentang pengalaman pribadi, bagaimana luar biasanya karomah yang dimiliki oleh KH. Asrori Al-Ishaqi r.a, setelah membaca buku "Karomah Para Kiai" oleh Samsul Munir Amin.


Karomah-atau dalam Bahasa Indonesia : keramat- memang suatu peristiwa yang sulit diterima akal pikiran manusia pada umumnya. Akan tetapi karomah sering dijumpai dalam berbagai literatur keagamaan, termasuk dalam berbagai literatur-literatur agama selain Islam.


Ada suatu peristiwa yang secara tidak langsung, menurut penulis buku sebagai karomah dari Habib Husein Alaydrus, yang saya pikir mungkin hampir mirip dengan yang pernah saya alami.


Hari itu, Minggu, seperti biasa ada pengajian ahad pagi di Pondok Pesantren As Salafi Al Fitrah, kediaman Romo Kyai Ahmad Asrori. Saya dan teman saya berniat untuk menghadirinya ketika itu. Dan kami pun berangkat dari kost-an kami menuju kesana dengan berboncengan sepeda motor.


Tidak berapa jauh kami dapati, ban belakang motor kempes, kami berpikiran kalau ban ini bocor tentu kami harus menambalnya dan akan perlu waktu yang agak lama, akibatnya kami akan ketinggalan ceramah Kyai Asrori.


Maka kami putuskan, untuk hanya menambah angin saja, mudah-mudahan cukup sampai di pondok, kalau memang ban itu bocor, setelah acara nanti ban itu baru ditambal.


Alhamdulillah, kami pun sampai dipondok dengan selamat, dan dapat mengikuti ceramah Kyai Asrori dari awal hingga akhir. Dan setelah acara berakhir kami pun pulang.


Dalam perjalanan pulang tidak ada tanda-tanda ban motor kempes, kami pulang dengan lancar. Sampai di kost-an, setelah kami ganti baju dan ngobrol-ngobrol di dekat motor itu, tiba-tiba "peessshhh", ban motor itu kempes, dan harus dibawa ke tukang tambal ban untuk ditambal.


Peristiwa itu, menurut saya, walaupun tidak secara langsung, merupakan bagian dari karomah Kyai Asrori Al Ishaqi r.a. Karena karomahnya kami berangkat dan pulang pengajian dengan lancar.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa aafihi wa'fuanhu....
Read More

Pidato Syekh Nazim Adil al-Haqqoni di Pesantren Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah “Suryalaya

Tidak ada komentar :
Blog Entry Pidato Syekh Nazim Adil al-Haqqoni di Pesantren Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah “Suryalaya pada tanggal 05 Mei 2001″ May 4, '09 9:30 AM
for everyone
Mursyid Kammil Mukammil Thoriqoh Naqsyabandi Al-Haqqani, As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani dan kholifahnya Syekh Hisyam Al-Kabbani berkunjung ke Mursyid Kammil Mukammil As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom ) sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah yang berada di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat Indonesia.

Syekh Nazim adil al-Haqqani berpamitan kepada Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom) untuk kembali ke Jakarta



Pidato Syekh Nazim Adil al-Haqqoni di Pesantren Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah

“Suryalaya pada tanggal 05 Mei 2001″
Banyak para alim ulama dan para cendikiawan muslim memberikan pengetahuan agama kepada umat, pengetahuan itu bagaikan lilin-lilin, apalah artinya lilin-lilin yang banyak meskipun lilin-lilin itu sebesar pohon kelapa kalau lilin-lilin itu tidak bercahaya. Dan cahaya itu salah satunya berada dalam kalbunya beliau ( Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin).

Saya tidak tahu apakah Nur Illahi yang dibawanya akan putus sampai pada beliau saja, atau masih akan berlanjut pada orang lain. Tapi saya yakin dan berharap, sesudah beliau nanti masih akan ada orang lain yang menjadi pembawa Nur Illahi itu.Siapakah orangnya, saya tidak tahu.

Maka Anda sekalian para hadirin, ambillah Nur Illahi itu dari beliau saat ini. Mumpung beliau masih ada, mumpung beliau masih hadir di tengah kita, sulutkan Nur Illahi dari kalbu beliau kepada kalbu anda masing-masing. Sekali lagi, dapatkanlah Nur Ilahi dari orang-orang seperti Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

Dari kalbu beliau terpancar pesan-pesan kepada kalbu saya. Saya berbicara dan menyampaikan semua pesan ini bukan dari isi kalbu saya sendiri. Saya mengambilnya dari kalbu beliau. Di hadapan beliau saya terlalu malu untuk tidak mengambil apa yang ada pada kalbu beliau. Saya malu untuk berbicara hanya dengan apa yang ada pada kalbu saya sendiri.”

Pidato Syekh Nazim diatas juga pernah dimuat di Majalah Sufi “Lilin-lilin tidak bercahaya”


Dan dibawah ini pidato yang diterjemahkan oleh KH.Wahfiudin yang telah mendampingi Syekh Nazim Haqqoni dan Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ( Abah Anom ) disuryalaya.

Diterjemahkan Oleh KH.Wahfiudin, M.B.A

(Wakil Talqin Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin r.a)

dan

(salah satu Muballigh di Tv-Tv Swasta)

1. Hamdalah, sholawat, do’a untuk seluruh yang hadir, maupun muslimin/muslimat seluruhnya.

2. Kalau saya berbicara dalam bahasa Inggris tentu hanya sedikit orang yang faham, maka saya membutuhkan perterjemah. Sebenarnya saya ingin berbicara panjang lebar, tetapi orang-orang yang hadir sudah letih menunggu dan punya kepentingan-kepentingan yang lain. Maka saya akan berbicara kurang lebih setangah jam saja.

3. Kita saat ini hidup di zaman sulit dan serba kekurangan. Kekurangan orang-orang yang kuat, kekurangan orang-orang yang memiliki iman, kekurangan orang yang memiliki cahaya (nur) ilahi. Padahal tanpa nur Ilahi, segala kepandaian yang dimiliki manusia menjadi tidak ada apa-apanya.

4. Banyak ‘ulama dan cendikiawan di berbagai madrasah dan mejelis ilmu mengajarkan macam-macam ilmu pengetahuan. Tapi ilmu pengetahuan itu hanya ibarat lilin-lilin kecil saja dan menjadi tak berguna tanpa adanya api yang membawa cahaya. Meskipun orang membuat lilin-lilin sebesar pohon-pohon kelapa, apa artinya lilin-lilin itu kalau tidak dapat menerangi. Maka selain mencari lilinya, cari pula apinya yang menimbulkan cahaya.

5. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Cahaya Allah disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. lalu meneruskannya kepada para Sahabatnya dan para sahabatnya meneruskannya lagi kepada generasi-generasi sholih berikutnya. Dari mereka cahaya itu terus tersalurkan kepada orang-orang yang “siap” dan “mau” menerimanya. Itulah para mursyid thoriqoh. Ada 41 thariqoh di dunia, 40 diantaranya memperoleh Nur Ilahi melalui Sayyidina Ali bin Abi Tholib KW. Hanya satu yang memperoleh Nur Ilahi melalui Sayyidina Abu Bakar as-Shadiq, itulah thariqah Naqsyabandiyyah.

6. Sekarang, tidak banyak lagi orang-orang yang membawa obor Nur Ilahi itu. Di Indonesia yang penduduknya banyak inipun, orang pembawa obor Nur Ilahi tidak lebih dari sepuluh jari tangan jumlahnya. salah satunya adalah Beliau yang ada disebelah saya, Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

7. Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin ini sudah berusia lanjut, dan sudah agak lemah keadaan fisiknya. Saya tidak tahu apakah Nur Illahi yang dibawanya akan putus sampai pada beliau saja, atau masih akan berlanjut pada orang lain. Tapi saya yakin dan berharap, sesudah beliau nanti masih akan ada orang lain yang menjadi pembawa Nur Illahi itu. Siapakah orangnya, saya tidak tahu.

8. Maka Anda sekalian para hadirin, ambillah Nur Illahi itu dari beliau saat ini. Mumpung beliau masih ada, mumpung beliau masih hadir di tengah kita, sulutkan Nur Illahi dari kalbu beliau kepada kalbu anda masing-masing.

9. Orang yang hidup di dunia tanpa Nur Illahi adalah orang yang buta. Dan (Syekh Nazim mengutip al-Qur’an), “Barang siapa yang didunia ini buta, maka di akhiratnya pun akan buta”. Sekali lagi, dapatkanlah Nur Ilahi dari orang-orang seperti Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

10. Beliau (Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin) nampaknya saja tertunduk dan tidur. Sebetulnya beliau tidak tidur. Dari kalbu beliau terpancar pesan-pesan kepada kalbu saya. Saya berbicara dan menyampaikan semua pesan ini bukan dari isi kalbu saya sendiri. Saya mengambilnya dari kalbu beliau. Di hadapan beliau saya terlalu malu untuk tidak mengambil apa yang ada pada kalbu beliau. Saya malu untuk berbicara hanya dengan apa yang ada pada kalbu saya sendiri.

11. Demikianlah apa yang saya perlu saya sampaikan kepada anda semua. (Lalu Syekh Nazim menutup pembicaraannya dengan tahlil, sholawat dan do’a). Saya tuliskan point-point ceramah Syekh Nazim ini berdasarkan sisa ingatan saya ketika mendengar dan menterjemahkan pidato beliau empat hari setelah kejadian, sepulang saya dari Medan. Tentu saja ada banyak kekeliruan ataupun kekurangannya. Saya mohon maaf, dan kepada Allah Swt., saya bersimpuh memohon ampun. Jakarta09 Mei 2001**
Read More

K A R O M A H MURSYID THORIQOH QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH SYEIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ‘ARIFIN RA (ABAH ANOM) May 4, '09 1:55 PM for everyone

2 komentar :









KAROMAH ABAH ANOM MENYADARKAN TANTANGAN KIAI SAKTI PILIH TANDING


Diterima dari mantan ketua Yayasan Pondok Pesantren Suryalaya Perwakilan Sumedang Bapak Etje Juardi beliau  menerima dari orang yang bersangkutan, Kiai Sakti.
Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti mandraguna tanpa pilih tanding, namanya Kiai Jured. Beliau sudah mengenal akan kemasyhuran dan ke Ulamaannya Abah Anom yang memiliki jutaan pengikutnya dan terus berkembang sampai keluar negeri.
Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.

Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka Beliau sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke madrasahnya bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai tersebut merasa kaget akan  kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu yang telah Beliau sediakan  di madrasah.
Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantrennya yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang kekurangan pesantrennya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Abah Anom  hanya tersenyum dan menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu diam seribu bahasa.
Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis, hal itu mengingatkan akan kejadian mujizatnya Rosulullah saw . Kiai itu sangat kagum akan karomah yang dimiliki Beliau dan merasa kesaktian yang dimiliki dan dibanggakannya itu sudah tidak ada artinya dihadapan Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom.
Benarlah ungkapan : “diatas langit ada langit”. Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang, Kiai merasa malu dan kalah lagi.
Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Beliau untuk memukulnya sebagaimana yang telah dicontohkannya.
Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa, yang bisa membelah itu adalah Allah, baiklah abah hanya minta kepada Allah itu pun kalo diizinkan,” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Mursyid dan batu itu menjadi air ,subhanallah…
Namun kiai tersebut masih penasaran karena kesaktiannya belum bisa mengalahkan karomah Beliau sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah. Kiai mencoba menguji lagi karomah Beliau dengan  kelapa yang telah dibawa santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Beliau agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan bentuk tertentu.
Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa . Seharusnya minta kepada Allah saja ,jangan kepada Abah. Hanya Allah lah yang bisa mewujudkan segala sesuatu karena Dia Maha Berkehendak dan Berkuasa”. Kiai itu masih penasaran akan permohonanya kepada Abah Anom, selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai. Subhanalllah…
Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit  burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau
Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Beliau sadar dan memohon maaf atas kesombongan dan kesalahannya. Akhirnya Kiai memohon kepada Beliau untuk diangkat menjadi muridnya dan menjadi seorang pengamal Thoriqat Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah .
Kiai itu ditalqin dzikir TQN (diajarkan dzikir Thoriqat Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah), dengan talqin dzikir itu menyadarkan akan adanya Allah Yang Maha Mengetahui akan perbuatan jahat makhluqnya baik lahir maupun batin dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah…
Read More

Kisah nyata Keajaiban Sholawat

7 komentar :
Pagi itu keluarga Achmad akan berangkat ke malang, naik pesawat terbang, mereka berempat, ayah, istri dan dua anaknya(Hasan dan Husein),Hasan kelas 5 SD, sedang Husein kelas 2 SD.
Pesawat bergerak naik seperti biasa aman2 saja, tiada kendala apapun. Dalam perjalananpun tiada hal yang dapat membuat hati was-was.
Tapi ketika pesawat akan sampai ditujuan, ingin mendarat, bandara tidak kellihatan, karena tertutup awan tebal, pramugari sudah memberikan aba-aba pada penumpang dengan kata2 yg masih diingat oleh Achmad ” Kita adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya”, seluruh penumpang kapal panik dan tegang, begitupun dengan Achmad, mulutnya terus berzikir karena mereka semua takut akan terjadi sesuatu dengan pesawat.
pesawat akhirnya memutar kembali mencari posisi aman untuk turun, ketika pesawat menukik lagi untuk turun, badan pesawat bergoyang hebat, sehingga barang-barang yg ada diatas berjatuhan, sungguh peristiwa yang sangat menegangkan, karena mereka semua sudah menyangka bahwa pesawat akan mengalami kecelakaan.
Ketika dalam keadaan yang sangat takut dan menegangkan, Hasan dan Husein berteriak-teriak membaca Sholawat dan puji-pujian kepada Rosulullah Saww, entah mengapa pesawat seperti ada yang menuntun menembus awan lalu terlihatlah bandara malang, pesawat dengan tenang mendarat.
Setelah pesawat mendarat dan semua penumpang akan turun, pilot keluar dari tempatnya mencari dan menanyakan “siapa tadi yang membaca Sholawat?” Hasan dan Husein tunjuk tangan “Saya pak!”, langsung pilot menghampirinya dan menyalaminya serta mengucapkan terima kasih, pilot itu berkata “tanpa kamu saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pesawat ini”. Rupanya si pilot seorang muslim, jadi ia tau bacaan sholawat.
Cerita ini adalah kisah nyata yang belum lama terjadi, sengaja saya turunkan, untuk mengambil hikmah, bahwa bila dalam keadaan genting atau ketakutan yang amat sangat, kita bisa memanggil Allah dengan perantaraan Nabi-Nya, yaitu seorang yang dicintai oleh Allah. Seandainya ada yang tidak percaya dengan cerita ini, itu hak anda, tapi peristiwa ini memang benar-benar terjadi.
Sumber http://www.facebook.com/note.php?note_id=319707945214

2 Comments so far

  1. nury on October 28th, 2009
    subhanallah,,,betapa indah nya hidup ini jika di isi dengan taat kepada Allah. yaitu, dengan cara berdzikir pada Allah dan sibuk bersholawat atas nabi saw. disetiap waktu disertai oleh kalbu yang iklas, jiwa yang bening, niat yang baik, dan perasaan cinta pada rasulullah saw. Allah memerintahkan untuk bersholawat atas nabi saw.”sesungguhnya allah beserta para malaikat Nya bersalawat atas Nabi saw. wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlah salawat dan salam atasnya. (Q.S Al Ahzab[33]:56)allahumma salli ala saidinna muhammad
  2. engkus on October 29th, 2009
    Kisah nyata diatas mengingatkan saya sepuluh tahun lau (1999). Kronologisnya persis seperti diatas, cuma waktu dan tempat kejadianya yang beda. Waktu itu saya dalam penerbangan Jakarta - Ternate untuk suatu tugas perusahaan, transit di Manado. Saya pikir akan memakai pesawat yang sama, eh…ternyata gati pesawat dengan tipe foker. Sewaktu take off pesawat mengalami guncangan hebat, tapi sudah diatas jadi tenang. Perjalanan dari Manado Ke Ternate sekitar satu jam, tapi sudah satu setengah jam masih belum tiba di Ternate. ternyata kendalanya karena gangguan cuaca. Pesawawt tidak bisa mendarat di Ternate karena cuaca buruk, akhirnya pesawat putar balik lagi ke Manado. Lama sekali pesawat berputar di atas Manado dan ternyata di Manado juga sudah tak bisa mendarat karena cuaca buruk tertutup awan tebal. Kepanikan semua penumpang makin menjadi tatkala pramugari sambil menagis berkata ” Kita pasrahkan jiwa ini kepada pemilikna “. Disaat itulah baru pertama kali saya merasakan ketakutan luar biasa. Sebisa mungkin saya memusatkan hati dan fikiran berdo’a kepada Allah Yang menggenggam segenap jiwa mahlukNya. Disaat itu saya berdo’a cuma satu, ” Yaa Allah, ikhlaskanlah hati ini menghadapi kematian dari sisiMU dan iringilah kematian saya bersama maghfirahMu, dengan haqnya nabiMu Muhammad saw. ” kemudian saya baca istighfar, sholawat dan dzikir didalam hati. Disaat itulah semua dosa2 saya terbayang didepan mata saya, saya berusaha memejamkan mata saya dan menundukan kepala dan sebisa mungkin mempersatukan hati, rasa dan fikiran saya menghadap kepada Allah Sang Pemilik jiwa. hati saya menjerit minta ampun kepada Allah dan waktu itu permohonan saya cuma satu ” ingin mati dalam husnul khotimah “, tidak minta diselamatkan dari bahaya maut.
    Entah berapa lama saya tenggelam dalam do’a dan dzikir, tiba2 terasa guncangan dan suara gemuruh dalam pesawat, saya pikir pesawatnya mau meledak, hati saya makin kencang makin fasih menyebut nama Allah dalam setiap detak jantung dan setiap hembusan nafas. ech…ternyata pesawatnya berhasil landing dengan selamat. Tak kuasa saya menahan tangis kemudian penumpang disamping kiri saya dipeluk peluk sambil menangis.
    Subhanallah, Allah telah menguji saya dan semua penumpang didalam pesawat itu dengan ketakutan dan ketegangan luar bisa. Berkat kepasrahan jiwa yang tulus, Allah menyelamatkan saya dan semua penumpang pesawat tersebut dari bahaya maut.
    Setelah keluar dari pesawat semua penumpang kelihatan pucat mungkin masih syok, termasuk saya perasaan belm begitu pulih. Kemudian saya cari wartel, saya telepon ke perusahaan saya dan saya lapor belum sampai ketempat tujuan, saya ceritakan kronologisnya. Akhirnya saya disuruh nginap di Hotel Century Manado dengan guarantee perusahaan. Saya nginap dihotel tersebut tapi tak bisa tidur nyenyak entah kenapa. Rupanya ujian belum selesai, ditengah malam saya dikejutkan dengan guncangan yang hebat didalam hotel seperti mau roboh, ditengah malam terjadi gempa yang hebat. Mulai saat itu saya tidak tidur lagi sampai besok paginya sampai terbang lagi berangkat ke Ternate, dari Ternate terus nyambung naik boat nyebrang ke Halmahera, dari pelabuhan Sidang Oli ganti lagi naik rental car perjalanan darat sekitar 3 jam baru nyampe ketempat kerja. masya Allah, begitu melelahkan.
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan ( Atom )

email updates

Like us on facebook

Pengantar Syekh Nazim Adil al-Haqqani qs
Nasihat Mawlana kita yang tercinta, Sheikh Nazim Adil Haqqani Ar Rabbani 1996
Perubahan yang Kita Butuhkan
intermezzo mawlana syaikh nazim
mastnawi

Popular Posts

  • Biografi Al-Habib Abdurrahman Bil Faqih
    Hampir seluruh waktu Habib Abdurrahman Bilfaqih dipergunakan dijalan dakwah dan mengajar di pesantren. Memang buah jatuh tidak...
  • Kisah nyata Keajaiban Sholawat
    Pagi itu keluarga Achmad akan berangkat ke malang, naik pesawat terbang, mereka berempat, ayah, istri dan dua anaknya(Hasan dan Husei...
  • Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi
    Orong-orong Senin, 12 Oktober 2009 Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi Tergelitik hati untuk menuliskan tentang pengalaman pribadi, bagaimana ...
  • Kenangan KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi
      Pimpin Doa dengan Infus di Tangan RIBUAN orang menangis histeris. Ini terjadi ketika jenazah Hadratus Syekh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi ...
  • Prediksi Sufistik, Armageddon Perang Nuklir 8
     PERANG NUKLIR ARMAGEDDON 8 Prediksi Sufistik Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani Imam Mahdi dan NABI ISA AS Yesus Kristus, Sang Juru Se...
  • Karomah KH Ahmad Muzzaki Syah
    Dalam kesehariannya, kehidupan Kyai Ahmad Muzakki Syah  sangat bersahaja. Dia tidak pernah menonjolk...
  • THE INTEREST WITHOUT THE CAPITAL
    The lover's food is the love of the bread; no bread need be at hand: no one who is sincere in his love is a slave to existence. Love...
  • Poem Love Rumy
    Because I cannot sleep I make music at night. I am troubled by the one whose face e has the color of spring flowers. I have neither slee...
  • The Divani Shamsi Tabriz, XIII
    This is love: to fly toward a secret sky, to cause a hundred veils to fall each moment. First, to let go of live. In the end, to take ...
  • K A R O M A H MURSYID THORIQOH QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH SYEIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ‘ARIFIN RA (ABAH ANOM) May 4, '09 1:55 PM for everyone
    KAROMAH ABAH ANOM MENYADARKAN TANTANGAN KIAI SAKTI PILIH TANDING Diterima dari mantan ketua Yayasan Pondok Pesantren Suryala...

Blog Archive

  • 2009 (57)
    • Oktober (21)
    • November (36)
  • 2012 (6)
    • Januari (6)
      • Poem Rumy
      • Maulana Syaikh Naqsyabandy
      • LOVER (Rumy)
      • Poem Love Rumy
      • The Divani Shamsi Tabriz, XIII
      • THE INTEREST WITHOUT THE CAPITAL

© Attar Van Rumy 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool