Dengan menyebut nama ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang
WALI WAFAT DI HADAPAN PARA WALI
| Ditulis oleh administrator | |
| Friday, 29 February 2008 | |
Ada seorang wali Allah bernama Abu Jahir telah keluar dari negerinya dan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari kampung asal bersama istri dan keluarganya yang lain. Di tempat baru ini, dia telah mendirikan sebuah masjid dan beribadah di situ dengan tekun dan tenang. Beliau senantiasa dikunjungi oleh orang yang ingin belajar dan mendalami jalan menuju Allah SWT. Pada suatu hari seorang wali Allah yang lain bernama Soleh Al-Mari berazam untuk menziarahi Abu Jahir untuk mendapatkan barakah dari beliau. Maka pada hari yang telah ditetapkan, berangkatlah Soleh ke negeri tempat tinggalnya Abu Jahir. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Muhammad bin Wasi’, kenalannya yang juga seorang Wali Allah. “Assalaamuálaikum.” kata Soleh.“Waálaikumussalaam warahmatullah” jawab Muhammad bin Wasi’Kedua wali Allah ini pun berpelukan sambil bertanya kabar masing-masing dan berbual mengenai masalah kesufian.“Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Muhammad.“Aku hendak menziarahi rumah Abu Jahir” “Ke rumah Abu Jahir?”“Ya, betul”“Masya Allah, aku juga hendak pergi bersama.” Kedua-duanya pun berangkat menuju ke tempat tinggal Abu Jahir dan setelah berjalan beberapa batu, mereka bertemu dengan seorang lagi Wali Allah bernama Hubaibul Ajami. Mereka bersalaman dan bertanya kabar.“Hendak ke mana anda berdua ini?” tanya Hubaibul Ajami.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Aku juga dalam perjalanan ke sana.”“Kalau begitu eloklah kita pergi bersama”Mereka meneruskan perjalanan dalam keadaan yang sungguh menggembirakan karena bilangan mereka semakin ramai. Setelah sampai di suatu tempat, tiba-tiba mereka berjumpa dengan Malik bin Dinar, seorang wali Allah yang masyhur. Mereka bersalaman.“Hendak pergi ke manakah kamu ini?” tanya Malik bin Dinar.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Subhanallah, aku juga sedang menuju ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”Sekarang mereka menjadi berempat dengan tujuan yang sama. Dengan kuasa Allah SWT, di tengah perjalanan, mereka berjumpa seorang lagi rekan Wali Allah yang bernama Thabit Al-Bannani. Mereka pun bersalaman dan saling bertanya kabar.“Kamu hendak ke mana?” tanya Thabit.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Masya Allah, saya juga akan ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”“Segala puji-pujian bagi Allah SWT yang telah mengumpulkan kita dan pergi bersama-sama walaupun tanpa perjanjian” kata Thabit Al-BannaniBerjalanlah ke lima Wali Allah berkenaan menuju rumah Abu Jahir. Sepanjang perjalanan, mereka tidak putus-putus memuji dan bersyukur kepada Allah SWT justru mengaruniakan peluang berjalan bersama menuju ke rumah Wali-Nya. Tidak satu pun ucapan yang keluar dari mulut mereka melainkan perkataan yang mendatangkan manfaat.Setelah berjalan beberapa lama, mereka singgah di suatu tempat untuk berehat dan salat.“Marilah kita salat dua rakaat di sini, agar tempat ini ikut menjadi saksi esok di hari Kiamat di hadapan Allah Azza Wajalla” kata Thabit Al-Bannani“Satu cadangan yang baik” sahut yang lain.Lalu mereka mengerjakan salat bersama-sama dengan penuh khusyuk dan tawaduk. Setelah menunaikan salat, mereka berdoa untuk kepentingan umat Islam sekaliannya untuk di dunia dan di akhirat. Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Abu Jahir.Terasa kedamaian pada mereka apabila terpandang rumah dan masjid yang didirikan oleh Abu Jahir. Namun mereka tidak terburu-buru mengetuk pintu atau minta izin untuk masuk demi menjaga peradaban Wali Allah. Mereka pun duduk di masjid menunggu Abu Jahir keluar untuk salat. Tidak berapa lama kemudian, waktu Zuhur pun masuk. Maka keluarlah Abu Jahir tanpa berucap apa-apa sebaliknya terus masuk ke masjid, berazan, iqamat dan salat. Kelima tetamunya yang mulia itu salat berjemaah berimamkan Abu Jahir.Selepas salat, barulah mereka menemui Abu Jahir satu persatu. Mula-mula sekali Muhammad bin Wasi’. “Assalaamuálaikum” kata Muhammad“Waálaikumussalaam” jawab Abu Jahir disambung dengan pertanyaan “Anda ini siapa?”“Saya saudaramu Muhammad bin Wasi’ ““O...Kalau begitu andalah orang Basrah yang terkenal paling bagus salatnya itu kan?”Muhammad diam tanpa berkata apa-apa.Kemudian, Thabit Al-Bannani maju ke hadapan.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Thabit Al-Bannani”“O...Kalau begitu kamu yang dikatakan sebagai orang Basrah yang paling banyak salatnya itu kan?” Tanya Abu Zahir.Thabit juga diam tanpa berkata apa-apa.Tiba pula giliran Malik bin Dinar.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Malik bin Dinar” jawabnya.“Masya Allah, jadi kamulah yang termasyhur sebagai orang yang paling zuhud di kalangan penduduk Basrah, bukan?”Malik juga tidak berkata apa-apa. Kemudian Hubaib Al-Ajami menemui Abu Jahir.“Anda ini siapa?” tanya Abu Jahir“Saya adalah saudaramu Hubaib Al-Ajami”“Masya Allah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai orang yang mustajab doanya” kata Abu JahirSeperti yang lain, Hubaib mendiamkan diri. Akhirnya tiba giliran Soleh Al-Mari maju ke hadapan untuk memperkenalkan dirinya.“Anda pula siapa?” tanya Abu Jahir.“Saya saudaramu Soleh Al-Mari” jawabnya. “Subhanallah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai qari yang fasih dan bagus suaranya.”Soleh juga tidak mengeluarkan sepatah pun.Abu Jahir bertafakur sebentar seperti mengenangkan sesuatu.“Aku sebenarnya sangat rindu dan ingin mendengar suaramu wahai saudaraku” kata Abu Jahir. “Oleh itu, aku suka engkau bacakan empat atau lima ayat Al Quran karena aku ingin sangat mendengarnya.”Soleh menemui permintaannya lalu dia membuka Al Quran dan membaca Surah Al Furqan : Ayat 22 yang bermaksud :“Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata “Hijraan mahjuuraa” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu debu yang beterbangan”Sebaik saya mendengar bacaan ‘debu yang beterbangan’, Abu Jahir berteriak kuat sehingga pingsan disebabkan rasa ketakutan yang teramat sangat kepada Allah SWT. Apabila beliau sadar dari pingsannya, dia berkata “Silakan ulangi pembacaan ayat tadi”Soleh mengulangi bacaannya dan apabila sampai kepada “Debu yang beterbangan”, sekali lagi Abu Jahir berteriak sehingga rebah di tempat sujud dan wafat ketika itu juga.Soleh dan teman-teman Wali Allah nya sangat terharu menyaksikan kewafatan Abu Jahir yang mengkagumkan itu. Beliau wafat dalam keadaan amat ketakutan mendengar Kalam Ilahi. Tidak lama kemudian, istri Abu Jahir muncul.“Siapakah kalian ini?” tanya isteri Abu Jahir.“Kami datang dari Basrah. Yang ini Malik bin Dinar, Hubaib Al-Ajami, Muhammad bin Wasi’, Thabit Al-Bannani dan saya adalah Soleh Al-Mari” jawab Soleh mewakili para aulia sahabatnya itu.Tiba-tiba perempuan itu berkata “Innaa lillaahiwainnaa ilaihi raajiúun...kalau begitu Abu Jahir telah wafat”Soleh dan rakan-rakan wali Allah nya merasa heran terhadap perempuan itu, karena dia telah memastikan kematian suaminya, padahal dia belum menyaksikannya dan mereka juga belum memberitahunya apa yang telah terjadi.“Dari mana puan tahu bahwa Abu Jahir telah wafat?” tanya mereka keheranan.“Saya telah banyak kali mendengar doanya di mana beliau sering mengucapkan “Ya Allah, kumpulkanlah para Aulia-Mu pada saat ajalku” dan perempuan itu menyambung “Jadi, tidaklah kamu berkumpul di sini sekarang ini melainkan Abu Jahir telah wafat”Rupa-rupanya doa Abu Jahir telah dimakbulkan Allah SWT.Maka para Aulia itu pun menguruskan mayatnya dari memandikan, mengafankan, menyembahyangkan sehinggalah menguburkan.Maha Suci Allah, yang telah mewafatkan hamba-Nya yang mulia dan diuruskan oleh tangan-tangan yang mulia pula. Semoga kita dikumpulkan oleh Allah SWT dalam golongan orang yang baik-baik dan mati syahid. Amin Ya Rabbal Aa’lamiin. Wallahu-a’lam bissawwab.... Sumbangan : Webmaster, Petikan/Rumusan Kembali dari : ‘Kisah Wali-Wali Allah’ Karangan Syaikul Imam Abdullah bin Asad Ali bin Sulaiman bin Fallah Al-Yafii, AlYamany Asy-Shafii | |
| Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 28 May 2009 ) |
FATIMAH AZ ZAHRA
| Ditulis oleh administrator | |
| Monday, 18 February 2008 | |
| FATIMAH AL ZAHRA PEMIMPIN WANITA SURGA Fatimah al Zahra as (ucapan Alaiha Salam silakan rujuk misalnya dalam Sahih Bukhari, Juzuk 5, hadis 368, dan 546) adalah putri Rasulullah SAW. Ibunya Khadijah adalah istri Rasulullah SAW yang pertama dan amat dikasihinya. Tentang Khadijah, Rasulullah SAW pernah bersabda yang bermaksud: “Empat wanita yang terbaik ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim istri Firaun.” (Muhibuddin al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba fi Manaqib Dhawi al-Qurba, hl.42: Al Hakim alam al Mustadrak, Juzuk 3, hlm 157).Fatimah AH mempunyai nama-nama timangan seperti Ummal Hasan, Ummal Husayn, Ummal Muhsin, Ummal A'immah dan Umma Abiha (Bihar al Anwar' Juzuk 43, hlm16) Rasulullah SAW menggelarkannya Fatimah AH sebagai “Ummu Abiha” bermaksud ibu kepada ayahnya. Ini karena Fatimah AH senantiasa mengambil berat tentang ayahnya yang dikasihi itu. Selain daripada itu gelaran-gelaran lain ialah Zahra, Batul, Siddiqah Kubra Mubarakah, Adhra, Tahirah, dan Sayyidah al Nisa (Bihar al-Anwar, Juzuk 43, hlmn16)Fatimah dilahirkan pada 20 Jumadil Akhir di Mekkah yaitu pada Hari Jumat, tahun kelima selepas kerasulan Nabi Muhammad SAW (Manaqib Ibn Shahrashub, (Najaf), Juzuk 3, hlm 132: al Kulaini, al Kafi; Misbah al-Kaf'ami: Syeikh al Mufid, Iqbal al-Amal). Tempat beliau dilahirkan ialah di rumah ayahanda dan ibundanya yaitu Rasulullah SAW dan Khadijah ak Kubra. Beliau AH wafat pada tahun ke-11 hijrah yaitu selepas enam bulan kewafatan ayahandanya Rasulullah SAW (al Bukhari, Sahih, Juzuk 5, Hadith 546)Kelahiran Fatimah AH amat menggembirakan Rasulullah SAW. Beliau SAW bersabda tentang Fatimah AH: “Dia adalah daripada ku dan aku mencium bau surga dari kehadirannya.” (Kasyf al-Qummah, Juzuk 2, hlm 24).Mengapa diberikan Nama Fatimah? Menurut Imam Ali al Ridha AS nama "Fatimah" diberikan oleh Rasulullah SAW Fatimah AH dan para pengikutnya terpelihara dari api neraka. Imam Ja'far al-Sadiq AS berkata: “Rasulullah SAW bersabda kepada Ali AS: Tahukah kamu nama mengapa nama Fatimah diberikan kepadanya? Ali menjawab: Mengapa dia diberikan nama itu? Dia (Rasulullah SAW) bersabda: Karena dia dan shiahnya akan diperlihara dari api neraka.” Ketika masih berumur dua tahun Fatimah AH turut bersama-sama ayah dan bundanya di perkampungan Shi'bi Abi Talib karena di boikot oleh masyarakat Mekkah. Kemudian pada tahun ke sepuluh kerasulan, ibunya Khadijah pula meninggal dunia. Peristiwa ini menjadikan Fatimah banyak bergantung hidup kepada ayahnya Muhammad Rasulullah SAW.Dalam peristiwa hijrah ke Madinah, Fatimah AH bersama-sama dengan rombongannya yaitu Fatimah binti Asad bin Hashim yaitu ibu kepada Imam Ali AS, Fatimah binti al-Zubair bin Abdul Muttalib, Fatimah binti Hamzah, dan juga Ayman dan Abu Waqid al-Laithi berhijrah ke Madinah. Rasulullah SAW telah sampai dahulu di Quba, Madinah. Sebelum meninggalkan Mekkah Rasulullah SAW telah mengarahkan Ali bin Abi Talib supaya menyusul bersama keluarganya kemudian. Justru, rombongan hijrah tersebut diketuai oleh Ali bin Abi Talib AS. (berbagai sumber) |
MUS’AB BIN UMAIR
| Ditulis oleh administrator | |
| Thursday, 25 September 2008 | |
| Tak Ada Kain Kafan Cukup Menutupi Jenazahnya Meniggalkan kemewahan dunia demi menggapai Surga. Itulah yang dilakukan Mus’ab bin Umair ketika masuk islam. Dia pemuda kota Makkah yang didambakan para ibu agar menjadi menantunya. Di samping tampan perilakunya juga baik, murah senyum dan sopan, idaman dan pujaan para wanita. Hal itu dapat dipahami karena Mus’ab anak orang berada. Kedua orang tuanya kaya raya. Ia juga sangat dimanja. Apa pun yang ia minta selalu dituruti orang tuanya. Ketika panaran cahaya islam mulai menyebar di bumi Makkah, orang-orang ribut membicarakan hal itu. Mak tentang Rosulullah pun terdengar juga di telinga Mus’ab. Ai penasaran, tertari mengetahui lebih jauh tentang Nabi terahir itu, serta ajaran yang dibawanya dan tengah disebarluaskannya. Suatu hari terdengar kabar bahwa Muhammad tengah berceramah di bukit shoffa, di hadapan puluhan manusia. Dan Mus’ab pun menuju ke sana. “Wahai keluarga Gholib, keluarga Fihr dan keluarga Quraisy yang lain,”sabda Nabi saw, “kalau kukatakan di balik lembah ini ada segerombolan musuh hendak menyerang kalian, apakh kalian percaya?” “Tentu, Muhammad. Sebab engkau belum pernah berbohong kepada kami!” jawab mereka serentak. “Ketahuilah, bahwa aku adalah nabi terahir yang diutus Allah untuk kalian, umat manusia.” Serentak yang mendengar jadi ribut. Paling marah Abu Jahal. “Celak kau, Muhammad!” kutuknya sengit. Berbeda dengan Mus’ab. Ia tidak demikian. Mendengar hal itu, hatinya tersentuh. Saat itu juga batinnya bertarung. Bingung. Hendak mempertahankan keyakinannya selama selama ini yang diwarisi dari nenek moyangnya yakni menyembah berhala, atau Allah yang Maha Esa sebagaimana ajaran Muhammad saw. Mus’ab gundah. Di lain kesempatan, Mus’ab menemui Muhammad saw di rumah seorang penduduk Mekkah bernama Arqom. Ia mengutarakan kegelisahan hatinya, sekaligus bertanya banyak hal tentang islam. Nabi pun menjelaskannya dengan rinci, halua san mengena. Mus’ab terpesona. Gundah gulana jadi hilang. Perasaannya tenang. Di akhir pertemuan, Mus’ab mengucapkan kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Ketika ibunya tahu tentang hal itu, ia marah besar. Mus’ab dihukum, dimasukkan dalam penjara rumahnya. Ibunya berjanji tidak akan membebaskan Mus’ab sebelum Mus’ab kembali pada ajaran nenek moyangnya –menyembah berhala-, dan keluar dari agama yang baru saja dipeluknya. Hingga suatu ketika, tersiar kabar bahwa umat islam Mekkah hendak berhijrah menuju Habasyah guna menyelamatkan akidah. Maka ia pun berhasil lolos dari penjara rumahnya, kemudian ikut hijrah bersama umat Islam lainnya menuju Habasyah. Beberapa bulan kemudian umat islam pulang kembali ke Mekkah. Orang-orang Mekkah terkejut melihat keadaan Mus’ab. “Pemuda itu, yang dahulu sering berpakaian bagus, necis dan rapi, kini keadaannya tak ubahnya seperti gelandangan. Pakaiannya compang-camping, banyak jahitan dan tambalan di mana-mana”. Umat Islam pun banyak yang meneteskan air mata mengetahui keadaan Mus’ab ini. Mereka haru, sekaligus kagum. Mus’ab, ia rela melepaskan kemewahan dunia demi menjaga dan membela agama. Namun hati mereka juga sedikit bahagia karena Mus’ab masih selalu tersenyum seperti dulu. Seolah tak merasa menderita dengan keadaannya yang demikian. Tepatnya 7 syawal tahun ke-3 Hijriah, perang Uhud meletus. Mus’ab berada di garda terdepan barisa umat islam. Saat itu umat islam bias dikatakan kalah perang. Kondisi Nabi saw sendiri sangat riskan. Ia terdesak lawan dan mulai terluka. Melihat hal itu, Mus’ab menuju ke arahnya. Mus’ab melindungi Nabi dari kepungan musuh. Bendera islam yang semula dipegang Nabi saw kini pindah ke tangan Mus’ab. Pemuda itu berjung ganda; melindungi Nabi saw sekaligus menjaga bendera islam, ia gigih bertarung membasmi para musuh islam. Banyak korban berjatuhan di ujung pedangnya. Dan akhirnya ia juga gugur. Mus’ab yang berjasa besar pada Nabi saw dan umat islam lainnya telah tiada. Nabi saw juga haru, sebab ketika jenazah itu hendak dikafani, tak ada kain yang cukup menutupinya. Jenazah itu akhirnya hanya ditutup dengan kain burdah berukuran kecil. Jika kepala jenazah Mus’ab ditutupi, kedua kakinya kelihatan. Jika ganti kedua kakinya yang ditutupi, kepalanya jadi kelihatan. Mus’ab bin Umair, ia rela meninggalkan kemewahan dunia demi mempertahankan keyakinannya. (RUSLAN NZ) Pernah dimuat “Suara Muhammadiyah” NO. 02 TH KE- 91// 16-31 Januari 2006 M. |
Hanzhalah bin Abu Amir Pejuang Islam yang Dimandikan Malaikat
| Ditulis oleh administrator | |
| Wednesday, 24 September 2008 | |
| Kenikmatan dunia tidak sebanding nikmatnya menghadap sang Khalik dalam keaaan syahid. Begitulah prinsip yang dipegang oleh salah seorang sahabat Rosulullah saw, Hanzhalah Bin Abu Amir Ia pemuda sedehana. Namun berkat ajaran suci Rosulullah saw, juga latar belakangnya yang bersahaja, ia pun tumbuh menjadi sosok yang tidak pernah minder, dn gampang putus asa. Ia tek pernah merasa gentar kala harus membela kebenaran risalah suci yang dibawa Nabi saw. Pribadinya juga istimewa, karena Hanzhalah adalah Abu Amir Bin Syafy, yang biasa dipanggil Abu Amir. Abu Amir merupakan salah satu tokoh pemuka suku Aus pasa masa jahiliyah. Ketika ajaran islam mulai menerangi Madinah, t4empat ia tinggal, ia berada di garis terdepan barisan kaum penentang. Tak heran, Rosulullah saw menyebut Abu Amir dengan panggilan “Si Fasik”. Abu Amir kemudian memilih meninggalkan Madinah agar bias menghindari seruan islam yang dibawa Rosulullah saw, sekaligus mencari teman yang bias diajak menumpahkan dendam. Ia pun bergabung dengan kaum kafir Quraisy pimpinan Abu Shufyan. Di tengah-tengah kaum Quraisy Makkah ini Abu Amir gencar melancarkan propaganda tentang perlunya membendung tumbuh-kembangnya islam, serta memusuhi Rosulullah saw Sementara itu de Madinah dalam keadan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mengetahui rencana penyerangan pasukan Abu Shufyan. Madinah genting. Dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati melangsungkan pernikahan. Sungguh tindakannya utu merupakan gambaransosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan. Sebagaimana layaknya pengantin baru, malam pertama Hanzhalah pun dilewati dengan penuh kebahagiaan. Penuh cinta, kasih sayang juga kemesraan. Semua itu seakan menjadi bumbu penyedap di setiap degup jantung di malam indah yang tidak mengharapkan pagi segera datang. Memng, saat seperti itu, hal-hal yang sebelumnya diharamkan bagi seorang laki-laki dan perempuan, berubah menjadi halal. Bahkan berpahala besar. Sebanding sengan membunuh 70 Yahudi! Ketika kedua insane itu tengah asyik bercengkrama memadu kasih, tiba-tiba dari kejahuan terdengar seruan. Suara itu lama-lama terdengar makin keras. “Hayya’alal jihad, hayya’alal jihad…,” kian semangat. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinga Hanzhalah dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama surgawi yang ia nanti-nanti. Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan diri dari sang istri, kemudian bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Sejurus kemudian ia lari menuju medan perang. Di daerah Uhud kaum muslimin mempertaruhkan nyaqwa menghadapi pasukan Abu Shufyan. Di gurun pasir yang kering dan tandus itu Hanzalah mencabut pedangnya lalu berkelebat mencari mangsa. Dengan gagah berani ia terobos pasukan musuh, yang jumlah mereka lebih banyak dari pasukan kaum muslimin. Satu persatu tubuh orang Quraisy terluka bersimbah darah dan juga tewas berkalang tanah terkena sabetan pedang Hanzhalah. Kemahirannya bertempur benar-benar terbukti di perang Uhud ini. Hanzhalah bahkan berhasil menerobos brikade pasukan pengawal Abu Shufyan. Ia pun berhadap-hadapan langsung dengan tokoh Quraisy yang satu itu. Menurut kesaksian bebrapa orang, Hanzhalah bertarung sengit melawa Abu Shufyan. Bahkan ia tampak lebih unggul dan hamper meraih kemenangan. Sejengkal lagi pedangnya yang tajam hendak menebas tubuh Abu Shufyan, pada saat itu juga, Syadad bin al-Aswad, seorang tokoh Quraisy lainnya, tiba-tiba menikam Hanzhalah dari belakang. Sengguh tindakan seorang pengecut. Cara bertarung yang tidak jantan. Namun semua sudah ditakdirkan Allah SWT, sang pengantin baru itu pun gugur sebagai syuhada.Hanzhalah meninggal dengan senyum penuh kemenangan. Perang Uhud memang mengakibatkan kerugian besar bagi umat islam. Salah satunya adalah gugurnya Hamzah bin Abu Mutholib, pelindung Nabi saw dan pembela islam yang gigih. Termasuk Hanzhalah dan para sahabat yang lainnya. Saat Rosulullah saw dan para sahabat lainnya melakukan pengecekan jenazah, beliau menemukan jasad Hanzhalah. Betapa beliau terkejut, atas ijin Allah SWT, beliau melihat jasad Hanzhalah tengah dimandikan para malaikat. Sebuah peristiwa yang belum pernah beliau saksikan sebelumnya. Peristiwa luar biasa itu pun beliau kabarakan kepeda para sahabat. Membuat Abu Sa’ad as-Saidi penasaran dan mendekati jasad Hanzhalah, hendak mencari tahu banyak. Kedua matanya pun terbelalak. Ia melihat ada bekas tetesan air di kepala jenazah Hanzhalah yang menyunggingkan senyum itu. Apa yang terjadi pada jenazah Hanzhalah itu memebuat para sahabat bertanya-tanya. Di rumah Hanzhalah, seorang sahabat menceritakan peristiwa tersebut kepada istri Hanzhalah. Perempuan shalihah yang cantik dan anggun itu pun menjawab, “Dia pergi ke medan perang ketika mendengar seruan jihad. Padahal pada waktu itu dia masih dalam keadaan junub.” Rosulullah pun menjelaskan, “Sebab itulah ia dimandikan para malaikat.” Hanzhalah bin Abu Amir kemudian dikenal dengan sebutan “Ghoisulmalaikat” (orang yang dimandikan para malaikat). By: Ruslan NZ Pernah dimuat “Suara Muhammadiyah” NO. 15 TH KE-90 // 1 – 15 AGUSTUS 2005 M |
KISAH PENGALAMAN WALI ALLAH
| Ditulis oleh administrator | |
| Tuesday, 11 March 2008 | |
| SOLO (Lidahwali): Suatu kisah pengalaman seorang wali bernama Yasid Bustami. Satu hari seorang temannya datang pada Yasid Bustami untuk mengadu, “Saya telah berpuasa tiap hari dan melakukan salat setiap malam selama 30 tahun tetapi tidak juga memperoleh keringanan batin seperti yang engkau ceritakan. Yazid Bustami pun memotong kata-kata temannya “Kalaupun engkau melakukan salat dan berpuasa selama 300 tahun, engkau pasti tidak dapat menemukannya.” “Kenapa?” Tanya temannya. Jawab Yazid, “Sifatmu yang mementingkan diri sendiri dan serakah menjadi penghalang dan hijab antara engkau dengan Allah. Teman itu lantas bertanya, “Katakanlah padaku apakah obatnya?” “Ada obatnya ,” kata Yasid, “Tetapi engkau tidak akan sanggup melakukannya.” Setelah dipaksa oleh temannya. Yasid pun berkata, “Pergilah ke tukang pangkas rambut yang terdekat dan guntinglah janggutmu. Bukalah bajumu kecuali ikat pinggang yang melingkari pinggangmu. Ambillah karung yang biasa diisi makanan kuda, isilah buah kenari dan gantungkanlah karung itu di lehermu. Kemudian pergilah ke pasar sambil menangis, teriakkanlah seperti ini, “Setiap anak-anak yang memukul batang leherku akan mendapat sebiji kenari.” Selanjutnya pergilah ke pengadilan, hakim dan ahli hukum, katakanlah kepada mereka, “Selamatkanlah jiwaku.” Teman itu berkata, “Sungguh aku tidak sanggup berbuat begitu. Berilah cara pengobatan yang lain.” Yazid berkata, “Yang aku ceritakan tadi adalah cara pengobatan pendahuluan yang sangat perlu dilakukan untuk mengobati penyakit mu. Tapi sebagaimana yang kau katakan tadi, engkau tidak dapat disembuhkan lagi.” Yazid Bustami seorang wali Allah yang mukasyafah dapat membaca hati (rahasia batin) temannya yang berjuang untuk nama, pangkat dan sanjungan manusia. Sebab itu Beliau perintahkan sahabat itu bermujahadah dengan nafsunya dengan cara menghina diri di pasar dan mengaku jahat di hadapan hakim. Perintah itu memang berat, tetapi bagi Yazid tidak ada jalan lain lagi. Itulah cara mujahadatunafsi yang mesti dilakukan oleh orang itu. | |
| Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 25 June 2009 ) |
MENGENANG SANG WALI QUTUB (ABUYA DIMYATI)
| Ditulis oleh Yuliantoro S.Sos | |
| Tuesday, 25 August 2009 | |
| Sinopsis Buku: Manakib Abuya Cidahu (Dalam Pesona langkah di Dua Alam) Alangkah ruginya orang Indonesia kalau tidak mengenal ulama satu ini. Orang bulang Mbah Dim, Banten atau Abuya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian. Wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan). Ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi, humanis, penuh kasih sesama umat manusia. Kegiatan kesehariannya hanya mulang ngaji (mengajar ilmu), salat serta menjalankan kesunatan lainnya. Beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya. Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi. Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya. Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah sekelumit keteladanan Mbah Dimyati dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu anfusakum wa ahlikum naran. Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyati, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa. Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396). Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi Namun, Kini, waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Padahal, pada hari itu juga, dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”. (tor/abu-abu/Dari berbagai sumber) | |
| Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 25 August 2009 ) |
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
email updates
Like us on facebook
Popular Posts
-
Hampir seluruh waktu Habib Abdurrahman Bilfaqih dipergunakan dijalan dakwah dan mengajar di pesantren. Memang buah jatuh tidak...
-
Pagi itu keluarga Achmad akan berangkat ke malang, naik pesawat terbang, mereka berempat, ayah, istri dan dua anaknya(Hasan dan Husei...
-
PERANG NUKLIR ARMAGEDDON 8 Prediksi Sufistik Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani Imam Mahdi dan NABI ISA AS Yesus Kristus, Sang Juru Se...
-
Dalam kesehariannya, kehidupan Kyai Ahmad Muzakki Syah sangat bersahaja. Dia tidak pernah menonjolk...
-
Orong-orong Senin, 12 Oktober 2009 Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi Tergelitik hati untuk menuliskan tentang pengalaman pribadi, bagaimana ...
-
Pimpin Doa dengan Infus di Tangan RIBUAN orang menangis histeris. Ini terjadi ketika jenazah Hadratus Syekh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi ...
-
Because I cannot sleep I make music at night. I am troubled by the one whose face e has the color of spring flowers. I have neither slee...
-
The lover's food is the love of the bread; no bread need be at hand: no one who is sincere in his love is a slave to existence. Love...
-
This is love: to fly toward a secret sky, to cause a hundred veils to fall each moment. First, to let go of live. In the end, to take ...
-
KAROMAH ABAH ANOM MENYADARKAN TANTANGAN KIAI SAKTI PILIH TANDING Diterima dari mantan ketua Yayasan Pondok Pesantren Suryala...
Blog Archive
© Attar Van Rumy 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool