• home
  • Getting started
  • CSS
  • Components
  • JavaScript
  • Customize

Attar Van Rumy

Dengan menyebut nama ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang

Attarvanrumy
  • Link
  • Link
  • Dropdown
    • Action
    • Another action
    • Something else here
    • Separated link
    • One more separated link
  • Link
  • Dropdown
    • Action
    • Another action
    • Something else here
    • Separated link
  • Getting started
  • CSS
  • Components
  • JavaScript
  • Customize
  • Dropdown
    • Action
    • Another action
    • Something else here
    • Separated link

THE INTEREST WITHOUT THE CAPITAL

Tidak ada komentar : Label: Mastnawi
The lover's food is the love of the bread;
no bread need be at hand:
no one who is sincere in his love is a slave to existence.

Lovers have nothing to do with with with existence;
lovers have the interest without the capital.



Without wings they fly around the world;
without hands they carry the polo ball off the field.

That dervish who caught the scent of Reality
used to weave basket even though his hand had been cut off.

Lover have pitched their tents in nonexistence:
they are of one quality and one essence, as nonexistence is.

[Mastnawi]
Read More

The Divani Shamsi Tabriz, XIII

Tidak ada komentar : Label: Divani Shamsi Tabriz
This is love: to fly toward a secret sky,

to cause a hundred veils to fall each moment.

First, to let go of live.

In the end, to take a step without feet;

to regard this world as invisible,

and to disregard what appears to be the self.

Heart, I said, what a gift it has been

to enter this circle of lovers,

to see beyond seeing itself,

to reach and feel within the breast.
Read More

Poem Love Rumy

Tidak ada komentar :
Because I cannot sleep
I make music at night.
I am troubled by the one
whose face e has the color of spring flowers.
I have neither sleep nor patience,
neither a god reputation nor disgrace.
A thousand robes of wisdom are gone.
All my good manners have moved a thousand miles away.
The heart and the mind are left angry with each other.
The starts and the moon are envious of each other.

Because of this alienation the physical universe
is getting tighter and tighter.
The moon says, "How long will I remain
suspended without a sun?"
Without Love's jewel inside of me,
let the bazaar of my existence by destroyed stone by stone.
O Love, You who have been called by a thousand names,
You who know how to pour the wine
into the chalice of the body,
You who give culture to a thousand cultures,
You who are faceless but have a thousand faces,
O Love, You who shape the faces
of Turks, Europeans, and Zanzibaris,
give me a glass from Your bottle,
or a handful of bheng from Your Branch.
Remove the cork once more.
The we'll see a thousand chiefs prostrate themselves,
and a circle of ecstatic troubadours will play.
Then the addict will be breed of craving.
and will be resurrected,
and stand in awe till Judgement Day.
Read More

LOVER (Rumy)

Tidak ada komentar :
O lovers, lovers it is time
to set out from the world.
I hear a drum in my soul's ear
coming from the depths of the stars.

Our camel driver is at work;
the caravan is being readied.
He asks that we forgive him
for the disturbance he has caused us,
He asks why we travelers are asleep.

Everywhere the murmur of departure;
the stars, like candles
thrust at us from behind blue veils,
and as if to make the invisible plain,
a wondrous people have come forth.

The Divani Shamsi Tabriz, XXXVI
Read More

Maulana Syaikh Naqsyabandy

Tidak ada komentar :
 
Maulana Syaikh Naqsyaband, Imam ut Thariqah adalah Pir. Pir berarti Imam. Imam berarti Tiang. Dia adalah Tiang utama Tarekat kita. Semoga Allah memberkati Beliau dan memberkati kita semua di dunia ini dan akhirat kelak. Maulana Syaikh Naqsyaband berkata “Thariqathun isthufal khalqa jamii-an”. Kita mencoba mengikut dan menjadi pengikut. Ini adalah cara yang mudah dan enak untuk menuju kekuatan. Ada suatu mesin yang bekerja di depan rangkaian kereta api. Semua kerja yang berat dikerjakan oleh mesin itu. Dibelakang mesin itu ada beberapa gerbong yang bergabung bersama gerbong lainnya membentuk suatu rangkaian, tapi kekuatan utama berasal dari mesin itu, yaitu mesin yang berada didepan dalam rangkaian kereta api. Karena gerbong yang lain bergabung dengan mesin itu, mereka bergerak sesuai dengan arah dari mesin itu. Kemana saja mesin itu menuju rangkaian gerbong itu mengikuti. Walaupun rangkaian gerbong atau pengikut tidak punya kekuatan sendiri, tapi kemanapun mesin mengarah, mereka dapat menuju kesana juga. Mereka bisa juga berjalan menuju tempat tujuan mesin itu.

Karena itu, setiap Tarekat memiliki seorang Imam Tarekat. Imam-ut-Thariqah (Imam Tarekat) telah dikaruniai kekuatan untuk membawa kita dari asfala safiliina ilaa alaa illiyyiin, dari tingkatan terendah ke tingkatan tertinggi. Kalau hanya mengandalkan kemampuan diri kita sendiri mustahil kita bisa mencapainya. Anda tidak akan bisa terbang tanpa naik pesawat udara. Dengan menumpang pesawat udara Anda bisa menempuh perjalanan bahkan dari satu benua ke benua lainnya. Karena itu, Anda harus menggunakan sarana (tarekat) ini untuk beranjak dari maqam terendah Anda hingga ke maqam tertinggi yang mungkin dicapai.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lahir di desa Qasr al-Arifan dekat Bukhara pada tahun 711 H/1317 M. Beliau dikabarkan telah menunjukkan berbagai keajaiban yang luar biasa sejak masa kecilnya. Ketika Beliau masih muda, Muhammad Baba as Samasi, seorang Syaikh dari Tarekat Naqsyabandi memintanya datang dan untuk memenuhi permintaan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband berangkat ke kota Samas untuk berkhidmat kepada Maulana Syaikh Muhammad Baba as Samasi. Tentang kehidupan Beliau dalam periode ini Maulana Syaikh Bahauddin (ral), mengisahkan:

Bangun dari tidur setidaknya tiga jam sebelum subuh aku mengerjakan rangkaian shalat sunah dan setelah itu ketika dalam keadaan sujud aku memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk memberiku kekuatan untuk memikul Cinta Ilahiah Nya. Kemudian aku shalat subuh bersama Syaikh ku. Kelihatannya Syaikh mengetahui apa yang kuminta dalam sujudku, karena Beliau mengatakan kepadaku: Kamu harus mengubah apa yang kau minta dalam sujudmu, karena Allah Yang Maha Kuasa tidak suka hambaNya meminta kesukaran. Memang Dia memberi beberapa kesulitan kepada mahlukNya untuk menguji mereka. Hal ini berbeda. Seorang hamba tidaklah boleh meminta untuk diberi kesulitan-kesulitan karena hal ini tidak menunjukkan penghormatan kepada Allah. Karena itu ubahlah permohonan dalam sujudmu dengan berdoa “untuk hambaMu yang lemah ini wahai Tuhanku, karuniakanlah ridhoMu”.

“Sepeninggal Syaikh Muhammad Baba Samasi aku pergi ke Bukhara dan menikah disana. Aku tinggal di Qasr al-Arifan dekat tempat tinggal Syaikh Sayyid Amir Kulal dalam rangka berkhidmat kepada Beliau”. Menurut riwayat lama sebelumnya Syaikh Baba Samasi telah mengatakan kepada Sayyid Amir Kulal untuk mengasuh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband.

Maulana Syaikh Bahauddin (ral) mengisahkan pengalamannya. “Suatu ketika aku sedang melakukan khalwat bersama seorang kawan ketika tiba-tiba surga dan suatu pemandangan yang luar biasa ditampakkan didepanku. Dalam visi itu kudengar suara berkata “Tinggalkan semuanya dan datanglah ke Hadirat Kami sendirian”. Aku mulai gemetar dan lari meninggalkan tempat khalwat ke suatu tempat yang ada sungainya dan melompat ke dalam sungai itu. Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang aku belum pernah melakukan sebelumnya karena aku merasakan sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi. Terjadi Penyingkapan (futuh) di hatiku dan itu merupakan pembuka atas segala sesuatu. Seluruh alam semesta lenyap dan aku tidak sadar akan apapun selain sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi”.

Ada riwayat luar biasa lainnya yang dikisahkan Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral). Beliau bercerita “Pada tahap awal dari keadaan kertertarikanku aku ditanya mengapa aku menempuh jalan ini. Kujawab supaya aku mendapat kekuatan sehingga apapun yang kukatakan dan kuinginkan akan terwujud. Dijawab bahwa tidak bisa seperti itu, karena sesungguhnya apa yang Kami sabdakan dan yang Kami kehendaki adalah yang akan terjadi. Kujawab lagi bahwa aku tidak setuju dengan hal itu. Aku harus mampu berkata dan berbuat apapun yang kuinginkan, jika hal ini tidak bisa kudapat maka kenapa aku harus menempuh jalan ini? Lalu kuterima jawaban: tidak, sesungguhnya apapun yang Kami kehendaki Kami sabdakan dan apapun yang Kami kehendaki akan terwujud. Kujawab lagi apapun yang kukatakan dan kulakukan adalah jalan yang kutempuh. Setelah itu aku ditinggalkan sendirian.

Selama lima belas hari aku sendirian. Hal ini membuatku tenggelam dalam depresi yang mendalam. Lalu tiba-tiba saja terdengar suara “Wahai Bahauddin seperti yang kau inginkan maka Kami mengaruniaimu apapun yang kau inginkan”. Aku memohon agar diberi jalan yang bisa langsung menuju Hadirat Ilahi. Lalu aku mengalami visi yang luar biasa dan mendengar suara yang mengatakan bahwa aku telah dikarunia apa yang kuminta”.

Kisah ini luar biasa karena biasanya orang patuh pada Perintah Ilahi dan tidak meminta pemenuhan keinginan mereka sendiri. Biasanya tindakan menolak untuk mematuhi Perintah Ilahi dan memaksa untuk mendapatkan apa yang diingini akan dianggap tidak adab. Walaupun pada awalnya ditolak, permohonan Maulana Syaikh Bahauddin (ral) akhirnya dikabulkan. Permohonannya dikabulkan mungkin karena Beliau memohon untuk kemaslahatan orang banyak dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Ada kisah lain yang tak kalah menariknya kala Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) diuji oleh Syaikh nya. Ini sungguh ujian yang berat. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menuturkan kejadian ini. “Suatu ketika aku berada dalam tarikan Ilahiah yang begitu kuat sehingga aku tidak sadar akan diriku dan berjalan tanpa menyadari apa yang kulakukan. Ketika malam tiba kulihat kedua kakiku berdarah akibat luka sobek dan tertusuk duri. Lalu kurasakan bahwa aku harus pergi ke rumah Syaikh ku, Sayyid Amir Kulal. Malam itu terasa sangat dingin dan gelap tanpa ada bulan dan bintang sama sekali. Untuk melawan dinginnya malam aku hanya mengenakan jubah tua terbuat dari kulit. Ketika sampai di rumah Syaikh ku, kulihat Beliau sedang bersama teman-teman dan para pengikut Beliau. Ketika Syaikh melihatku Beliau memerintahkan pengikutnya untuk mengusirku keluar dari rumah. Syaikh ku tidak suka aku berada di dalam rumahnya. Pengikut Syaikh mendatangiku dan membawaku keluar dari rumah. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.

Terasa egoku akan mengalahkanku dan mengambil alih kendali perasaanku dengan mencoba meracuniku dengan menggoyah keyakinanku yang tulus pada Syaikh ku. Bagaimana aku bisa menanggung malu dan rasa terhina seperti ini? Lalu Rahmat Ilahi datang kepadaku sehingga aku mampu menanggung ini semata-mata hanya demi Allah dan demi Syaikh ku. Dengan tegas kukatakan pada egoku bahwa aku tidak akan membiarkan egoku membuatku kehilangan cinta dan keyakinanku pada Syaikh ku.

Lalu kurasakan depresi yang mendalam melandaku. Langsung kuarahkan diriku pada keadaan kerendahan hati, meletakkan kepalaku didepan pintu masuk rumah Syaikh dan berjanji bahwa aku tidak akan bergerak dari keadaan seperti itu sampai Beliau menerimaku lagi. Terasa salju dan angin dingin menyusup tulang yang membuatku menggigil dan gemetar menahan dinginnya malam yang kelam. Bahkan tak tampak cahaya bulan dan bintang sedikitpun pun untuk membuatku sedikit nyaman dan hangat. Tubuhku nyaris membeku. Hanya hangatnya cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kepada Syaikh ku saja yang menghangatkanku.

Aku menanti dengan tetap dalam keadaaan seperti itu hingga pagi hari. Lalu Syaikh ku melangkah keluar rumah dan tanpa melihatku kakinya menginjak kepalaku. Ketika Syaikh melihatku, dengan cepat dibawanya aku masuk ke dalam rumahnya dan dengan telaten serta penuh perhatian Beliau mencabuti duri dari kakiku. Beliau berkata “Wahai anakku, hari ini kau telah dihiasi dengan busana kebahagiaan dan Cinta Ilahi. Busana yang menghiasimu ini belum pernah dikenakan oleh siapapun, baik diriku maupun Syaikh-syaikh sebelumku. Allah dan Nabi Muhammad (sal) telah ridho kepadamu. Demikian juga Para Auliya dalam silsilah Rantai Emas, mereka semua telah ridho kepadamu”.

Sambil mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh luka di kakiku, Syaikh ku menuangkan kedalam hatiku pengetahuan yang belum pernah kualami sebelumnya. Lalu dalam visiku kulihat diriku memasuki rahasia dari Muhammadur RasuluLlah. Ini berarti memasuki rahasia dari ayat yang merupakan Realitas Muhammad. Setelah itu membawaku memasuki rahasia dari la ilaha illaLlah yang merupakan rahasia dari Keesaan Allah. Kemudian membawaku memasuki rahasia-rahasia dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa yang berada dalam rahasia dari Keesaan Allah. Tidak mungkin kata-kata bisa menerangkan keadaan yang kualami ini. Hal ini hanya bisa dialami dengan merasakannya melalui qalbu”.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) dididik oleh Syaikh Baba as Samasi dan Syaikh Sayyid Amir Kulal, keduanya merupakan figur Syaikh terkemuka dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi. Beliau juga dididik langsung oleh Grand Syaikh terkemuka lainnya dari Rantai Emas yang sama (yang hidup tidak sejaman dengan mereka). Kejadian ini dikisahkan oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband dalam tuturan berikut: Pada awal mula langkahku menempuh Jalan Sufi aku biasa berjalan-jalan dimalam hari dari satu tempat ke tempat lain di desa Bukhara. Untuk belajar dari mereka yang sudah meninggal dunia aku banyak mengunjungi kuburan di kegelapan malam dan ini biasanya juga kulakukan di musim dingin. Suatu malam aku pergi mengunjungi makam dari Syaikh Ahmad al Kashghari dan membaca fatihah untuk Beliau. Di makam Beliau kutemui dua orang yang sedang menantiku. Aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya. Mereka disertai seekor kuda. Mereka mendudukanku diatas pelana kuda itu dan mengikatkan dua buah pedang di pinggangku, lalu menuntun kuda ke makam dari Syaikh Mazdakhin. Kami lalu turun dari kuda dan memasuki makam dan mesjid dari Syaikh ini dan mulai melakukan meditasi (murakabah).

Dalam keadaan murakabah kulihat dalam dalam visiku tembok yang menghadap Ka’bah runtuh. Seorang laki-laki bertubuh raksasa kulihat sedang duduk diatas singgasana yang sangat besar. Aku merasa sangat familiar dengannya, sepertinya aku telah pernah bertemu dengannya sebelumnya. Kemanapun aku menghadapkan wajah kulihat orang ini. Disekeliling orang ini ada Syaikh Baba Samasi and Sayyid Amir Kulal berkumpul bersama dengan sekelompok besar orang yang hadir. Aku merasakan rasa cinta yang mendalam kepada laki-laki bertubuh besar ini dan pada saat bersamaan merasa takut padanya. Sosoknya memesona sekaligus menakutkanku dan keindahannya penampilannya menimbulkan rasa cinta dan ketertarikan. Aku bertanya pada diriku sendiri siapa sebenarnya lelaki agung dan bertubuh besar ini. Tiba-tiba kudengar seseorang yang berada disekitar lelaki itu berkata “Orang ini adalah Syaikh mu dan dialah yang menjagamu dalam jalur spiritualmu. Dia mengawasi jiwamu sejak masih berupa sebuah atom di Hadirat Ilahi. Kau telah dilatihnya selama ini. Namanya adalah Abdul Khaliq Al Gujduwani dan kumpulan orang yang terlihat disekelilingnya adalah para Auliya yang membawa rahasia-rahasia besarnya, rahasia-rahasia dari Rantai Emas”. Lalu Syaikh Abdul Khalik mulai menunjuk masing-masing Syaikh yang ada disitu dan berkata “Ini adalah Syaikh Ahmad, ini Arif ar-Riwakri, ini Syaikh Ali ar-Ramitani, ini Syaikh mu Baba as Samasi yang memberimu jubah semasa hidupnya”. Dia bertanya padaku “Apakah kau mengenalnya?”. Kujawab “Ya”. Lalu Beliau berkata “Jubah yang diberikannya kepadamu masih berada dirumahmu dan dengan perkenan Syaikh mu maka Allah Yang Maha Kuasa telah menghapus banyak kesulitan-kesulitan yang semestinya menimpamu”.

Lalu terdengar suara lain yang berkata ”Syaikh yang duduk diatas yang singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang kau butuhkan dalam menempuh jalan sufi ini”. Aku bertanya kepada mereka apakah aku diperbolehkan menyentuh tangan Beliau. Setelah diijinkan aku memegang tangan Beliau. Lalu Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani mulai mengajariku tentang jalan sufi, permulaannya, pertengahan dan akhirnya. Beliau berkata “Kau harus menyesuaikan sumbu hakikat dirimu sehingga cahaya yang tak kasat mata akan diperkuat didalam dirimu dan rahasia-rahasianya menampak. Kau harus menunjukkan istiqomah dan harus menjaga Syariah Suci dari Nabi Muhammad (sal) pada apapun keadaanmu”.

Beliau juga berkata “Kau harus meninggalkan kesenangan hidup duniawi dan menjauhi perbuatan bid’ah dan pusatkan dirimu hanya pada sunah-sunah Nabi Muhammad (sal). Kau harus menghayati dan menyelami peri kehidupan Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Kau harus mengajak orang untuk membaca dan mengikuti tuntunan Qur’an baik siang maupun malam dan menegakkan shalat wajib serta semua ibadah sunah. Jangan sekali-kali memandang rendah bahkan pada hal-hal kecil dari perbuatan dan amal shalih Nabi Muhammad”.

Begitu Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujduwani (ral) menyelesaikan ucapannya, wakil Beliau berkata padaku ”Agar kau yakin bahwa visi yang kau lihat ini benar adanya Beliau akan mengirimu suatu pertanda”. Dijelaskan bahwa hal-hal dan kejadian-kejadian tertentu akan terjadi sebagaimana mustinya terjadi dan pada saat yang telah ditentukan. Demikianlah kejadian-kejadian itu terjadi persis sebagaimana telah dikatakan kepada Maulana Syaikh Bahauddin (ral) yang kemudian juga berbuat persis sebagaimana Beliau diperintahkan, hal ini membuktikan kebenaran visi yang dialami Maulana Syaikh Bahauddin (ral). Beliau juga diminta untuk memberikan jubah Azizan kepada Sayyid Amir Kulal (ral). “Setelah visi itu berakhir aku pulang kerumah dan mencari jubah itu dan bertanya kepada keluargaku dimana adanya jubah itu. Mereka mengatakan kepadaku bahwa jubah itu sudah berada disana sejak lama, sambil membawa jubah itu dan menyerahkannya kepadaku. Aku mulai menangis didalam hati ketika melihat jubah itu”.

Setelah memenuhi segala hal yang dikatakan dalam visiku, sebagaimana diperintahkan aku membawa jubah Azizan ke Syaikh Sayyid Amir Kulal (ral) dan memberikan padanya. Setelah terdiam beberapa saat Syaikh Amir Kulal berkata padaku “Aku diberitahu tentang jubah Azizan ini semalam yaitu bahwa kamu akan membawa dan menyerahkannya padaku. Aku diperintahkan untuk menyimpannya dalam sepuluh lapis selubung yang berbeda“. Beliau lalu memintaku masuk ke dalam kamarnya dan mengajarkan serta menempatkan didalam hatiku zikir tanpa bersuara. Aku diminta untuk terus menerus berzikir seperti itu siang dan malam. Aku terus mengamalkan zikir ini yang merupakan bentuk tertinggi dari zikir.

Aku juga berguru kepada ulama-ulama lain untuk belajar Syariah dan sunah-sunah Nabi Muhammad (sal) dan juga mengkaji sifat-sifat Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Sejak aku melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dalam visiku, hidupku mengalami perubahan besar. Semua yang diajarkan oleh Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) dalam visi itu bermanfaat bagiku dan membuahkan hasil. Ruh Beliau selalu menyertaiku dan mendidikku. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) adalah salah satu dari beberapa Guru/Syaikh dari Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) walaupun Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) hidup dimasa sebelum jaman Maulana Syaikh Naqsyaband (ral). Hubungan ini dalam dunia sufi dikenal sebagai Hubungan Uwaisy, yang berarti bimbingan dan hubungan spiritual terjadi walaupun masing-masing berasal dari jaman yang berbeda. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) juga merupakan salah satu Syaikh dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengikuti dan belajar pada Mawlana Arif ad-Din Karani selama tujuh tahun. Setelah itu Beliau mengikuti Maulana Kuthum Syaikh selama beberapa tahun. Beliau juga menyertai seorang darwis bernama Khalil Ghirani yang tentangnya Beliau berkata “Selama menyertai Syaikh Khalil Ghirani banyak pengetahuan baru yang selama ini tersembunyi mulai tersingkap di hatiku dan Beliau selalu menjagaku, memujiku dan mengangkat derajatku”. Ada Kekasih Allah lainnya yang disebut oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) “Beliau memerintahkanku untuk menolong dan melayani orang miskin dan menolong mereka yang sedang hancur hatinya. Beliau memintaku untuk rendah hati dan bersikap toleran. Beliau juga mengatakan padaku untuk menyayangi hewan-hewan dan menyembuhkan sakit dan luka mereka dan memberi mereka makanan”.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqshband (ral) mengisahkan tentang kejadian lain yang masih berhubungan dengan jubah Azizan. “Suatu hari aku sedang berada di kebunku dan dikelilingi oleh murid-muridku. Aku mengenakan jubah Azizan. Tiba-tiba aku diliputi oleh rahmat dan tarikan surgawi dan kurasakan diriku dihiasi dengan busana sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa. Kurasakan diriku mulai gemetar sedemikian rupa yang tak pernah kualami sebelumnya sehingga aku tak mampu lagi berdiri. Lalu tampak olehku visi yang luar biasa dimana keberadaanku sama sekali lenyap (fana) dan aku tidak melihat apapun kecuali Wujud Tuhanku.

Lalu kulihat diriku keluar dari Hadirat Ilahiah-Nya yang tampak terpantul dari cermin Muhammadur RasuluLlah yang berbentuk sebuah bintang dalam samudra cahaya tanpa batas. Wujud luarku lenyap dan kusaksikan makna sesungguhnya dari la ilaha illaLlah Muhammadur Rasulullah. Kemudian kusaksikan makna sejati dari nama-nama Allah yang kemudian membawaku kepada Yang Maha Ghaib yang merupakan esensi dari nama Allah ‘Huwa” (Dia). Begitu aku memasuki samudra ini jantungku berhenti berdetak dan hidupku berakhir. Aku berada dalam keadaan mati. Semua orang yang berada disekelilingku mulai menangis karena mengira aku sudah meninggal dunia. Akan tetapi setelah kitra-kira enam jam aku diperintahkan untuk kembali ke ragaku. Aku bisa menyaksikan ruhku kembali memasuki ragaku perlahan-lahan dan visi itu berakhir”.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengatakan kalau Beliau menerima rahasia-rahasia spiritual dari berbagai pihak dan khususnya dari Uways al-Qarani (ral) yang memberi pengaruh besar dalam hal meninggalkan keduniawian dan melekatkan diri Beliau kepada hal-hal spiritual (ukhrowi). Beliau berkata “Aku melakukan ini dengan menjaga sunnah dan perintah-perintah Nabi Muhammad (sal) sampai aku mulai menyebarkan hikmah dan dikarunia rahasia-rahasia Ilahiah dari yang Maha Esa yang tidak pernah diberikan pada seorangpun sebelumku”

Ada kisah menarik lainnya yang dituturkan oleh Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) mengenai kekuatan spiritual Beliau. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) berkata: Suatu hari aku pergi ke gurun bersama salah satu muridku yang tulus yang bernama Muhammad Zahid. Kami mulai menggali tanah dengan menggunakan sebuah beliung (alat untuk menggali) dan pada saat bersamaan juga sambil membicarakan secara mendalam tingkatan-tingkatan pengetahuan. Sambil terus mengayun beliung pembicaraan kami terus berlangsung dan semakin mendalam. Lalu tiba-tiba muridku bertanya “Sampai batas apakah pencapaian ibadah?”. Kujawab ”Peribadatan mencapai suatu tingkatan dimana kau mampu menunjuk pada seseorang dan berkata “Matilah” dan lalu orang itupun mati”. Ketika aku sedang mengatakan itu tanpa sadar sambil telunjukku menunjuk pada Muhammad Zahid. Ketika kukatakan kata “Mati” terjadilah hal yang mengerikanku yaitu muridku jatuh dan meninggal dunia. Waktu terus berlalu dari pagi sampai tengah hari dan muridku masih dalam keadaan mati. Pada saat tengah hari terasa sangat panas dan jenasah muridku mulai semakin memburuk karena panas yang sangat. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan merasa takut serta kebingungan. Yang bisa kulakukan adalah membawa jenasahnya ketempat teduh dibawah pohon. Aku lalu duduk mulai berfikir dan merenung akan apa yang harus kulakukan dalam situasi ini. Tiba-tiba muncul Ilham dalam pikiranku dan aku berkata sambil menunjuk pada jenasah muridku “Wahai Muhammad Hiduplah!” tiga kali. Timbul rasa legaku ketika perlahan-lahan nyawanya kembali ke tubuhnya dan secara bertahap muridku kembali ke kesadarannya. Dengan bergegas aku menemui Syaikh ku dan menceritakan kejadian itu. Syaikh ku kemudian berkata “Wahai anakku, Allah Yang Maha Kuasa telah memberimu suatu rahasia yang tak pernah diberikannya kepada siapapun”.

Dihari-hari akhir masa hidupnya Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lebih sering mengurung diri di kamarnya. Banyak orang yang datang mengunjungi Beliau. Semakin banyak orang yang berkunjung ketika sakit Beliau semakin parah. Saat ajal Beliau makin dekat, Beliau memerintahkan agar dibacakan Surah Yaasin. Selesai dibacakan Surah Yaasin Beliau mengangkat tangan sambil membaca Dua Kalimah Syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad (sal) adalah Utusan Allah. Dengan Syahadat ruh suci Beliau kembali kepada Allah. Ketika itu tanggal 3 Rabiul Awwal, 791 H/1388 M, pada hari Senin malam. Sesuai permintaannya Beliau dimakamkan di taman miliknya. Mengenai kejadian ini seorang Wali Agung masa itu Abdul Wahab asy-Syarani berkata: Ketika Syaikh dimakamkan di makamnya terbukalah untuk Beliau sebuah jendela ke surga, sehingga makamnya menjadi sebuah taman surga. Dua mahluk spiritual berpenampilan memesona datang dan memberi salam kepada Beliau sambil berkata “Kami telah menanti sekian lama untuk melayani Anda sejak Allah menciptakan kami dan sekarang waktunya telah tiba bagi kami untuk melayani Anda”, terhadap ucapan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menjawab “Aku tidak butuh apapun selain Dia. Aku tidak butuh kamu, aku butuh Dia”. Dengan cara seperti itu Beliau mangkat.

Itulah kisah kebesaran dari Pir atau Tiang dari Tarekat Naqsyabandi yang mulia. Tarekat ini sebelum jaman Beliau dikenal sebagai Tarekat Siddiqiyah. Setelah Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral), tarekat ini dikenal sebagai Tarekat Naqsyabandiyah.

Semoga Allah merahmati Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral).
Read More

Poem Rumy

Tidak ada komentar :
Lepaskan segala kekhawatiranmu dengan hati bening, laksana refleksi wajah pada cermin yang tidak bergambar. Apabila engkau ingin bercermin dengan jelas, maka lihatlah dirimu sendiri, tengoklah rasa tak tahu malu mu dengan segala kebenaran. Itulah cermin yang mencerminkan. Jika logam dapat digosok pada cermin maka menjadilah, namun cermin apa yang dapat memoles hati (jiwa)? Antara cermin dan hati (jiwa) hanya terdapat satu perbedaan: rahasia hati (jiwa) dapat disembunyikan, sedangkan cermin tidak. (Divan)
Read More

Jump!!!

Tidak ada komentar :
 
Wednesday, July 26th, 2006

9 July 2006, St. Petersburg

Img_1958

Hari minggu, keluarga ini pun pergi ke liturgi di St. Petersburg. Bedanya liturgi di sini dibanding yang di Moskow, adalah ga ada Father John, sehingga yang mimpin adalah seorang pendeta muda bernama Father German.

Sehabis liturgi, Father German bilang bahwa dia berharap saya dan keluarga Father Lavr pergi ke kantor pusat mereka: sebuah flat di bangunan tua coklat di lingkungan yang berdebu, panas, dan sepi.

Perasaan kayak di film The Matrix muncul lagi. Tapi memang itulah tempatnya, ketika saya melihat tulisan di pintu utamanya: Russian Spiritual Centre. Di dalam, orang2 yang senyum2-sendiri itu muncul lagi. Kami langsung dijamu makanan yang sangat meyegarkan seabis jalan di St.Petersburg yang hari ini lebih panas dari Jakarta pun: 38 derajat Selsius.

Father German tiba2 masuk dengan jubah coklatnya. Dari matanya, terasa bahwa orang ini akan memberikan percakapan yang inspiring ke kamu. Father German duduk dan kita mulai ngobrol basa-basi tentang perjalanan, dalam bahasa Inggris, akhirnya. Hingga akhirnya, Father German pun bercerita tentang pertemuan luar biasanya dengan Syeikh Nazim al-Haqqani, pemimpin orde sufisme Naqshbandiyya di Cyprus. Yang sebetulnya, Master Yoda saya juga, hehe..

Suatu hari 2 tahun yang lalu, Father German dan Father Timothy bertualang ke Siprus untuk menemui sang master Sufi. Dengan susah payah: naik feri dari Turki, melewati gurun pasir, mencari2 rumah beliau di sebuah desa di tengah gurun, akhirnya mereka pun sampai di rumah sang Syeikh. Sebuah rumah sederhana di atas bukit yang dikelilingi kebun lemon, di sebuah desa in the middle of nowhere. Tapi ke situlah banyak orang2 berziarah, dari ulama2 setempat hingga para ’pencari’ dari sepenjuru benua.

Mereka berdua pun bertemu sang Syeikh, kata Father German selanjutnya, di teras depan rumah beliau. Sang Syeikh melihat mereka, membaca mereka. Pertama2 pada Father German, dan sekonyong2 berteriak ”Jump!!”

Father German bingung, jump? Lompat adalah hal terakhir yang dapat mereka bayangkan setelah perjalanan sulit sebelumnya. Para ulama bersorban kontan mengelilingi mereka, penasaran dengan yang terjadi. Syeikh Nazim masih melihat dengan matanya yang tajam, dan sekonyong2 berteriak lagi, ”Jump!!” Father German bingung, tapi kemudian, sebuah ilham mendatanginya. Hmm.. dia memaksudkan lompat yang lain..

”Maka lompatlah aku, Marina, di situ, di tengah2 ulama2 tua besar yang penasaran. Gila? Ya, tapi memang begitulah adanya. Kamu harus sedikit gila di hadapan Tuhan. Tidak mungkin tetap sadar dan dingin di hadapan KebesaranNya di atas. Seperti rayap2 yang gila akan sinar lilin dan ingin terbakar di dalamnya.”

Saya melongo terkesima, makanan2 dan mentega meleleh di antara kita, cuaca di luar masih sangat panas, tetapi ruang kayu itu tetap berpendar dalam kekaguman. ”Aku lompat karena ketika itu aku berpikir, apa yang diinginkan Syeikh Nazim bukan hanya lompat biasa, beliau ingin kami lompat menggapai ’surga’! Maka aku pun lompat, tapi Syeikh Nazim terus berteriak, ”Jump!! Higher!!” Aku lompat sekuat tenaga, tetap Syeikh masih belum puas. Spirit saya sudah lompat setinggi2nya, menggapai langit sedemikian rupa, tapi masih tetap belum cukup..”

”Hingga kemudian, aku berpikir lagi, apa yang kurang? Aku sudah lompat setinggi mungkin. Tapi kemudian, tiba2 aku sadar, saya masih bisa lompat lebih tinggi lagi.. Lompat sendiri belum lah cukup, aku harus.. lompat bersama semua orang di sini.. Sehingga kemudian, secara spirit aku pun berusaha membawa ulama2 di situ untuk lompat juga..! Lompat bersama ke surga! ”Jump!! Higher!!! Higher!!” Sang Syeikh masih berteriak. Aku pun hampir kehilangan kesadaran, lompat bersama spirit semua ulama yang ada di situ, berusaha menggapai langit..”

“Ck ck ck..” semua orang di dalam ruang kayu itu geleng2 dalam kekaguman.

“Akhirnya, sang Syeikh pun berhenti berteriak, dan beliau mengamatiku sambil mengangguk2, ”Hmm..” Beliau tiba2 berteriak kepada beberapa ulama yang ada di situ, ”You! You! Take their luggage!!” Bisakah kau bayangkan? Ulama2 besar2 yang terhormat itu tiba2 disuruh bawa koper?“

“Syeikh Nazim sering melakukan itu pada murid2nya, untuk mengetes ego mereka..“

”Ya, dan karena mereka ragu untuk melakukannya, Syeikh Nazim mulai menendang pantat beberapa dari mereka. Hahaha! ”Take their luggage! They are my grandsons!!” Benar2 seseorang yang ‘kuat’, seperti singa.”

”Ck ck ck,” hatiku kagum luar biasa.

“Kami pun tinggal di sana sekitar 1 minggu, hingga akhirnya kami pun membawa sebuah kabar kepada beliau. Bahwa pemimpin kami, Archbishop John, akan datang juga untuk mengunjungi beliau. Dan, di luar dugaan kami, semenjak kabar itu, Syeikh Nazim tidak henti2nya merasa gembira. Beliau berteriak2 sambil lompat2 kecil, ”Holy John! Holy John is coming to me!!”

“Really..?” saya geleng2 kepala tidak dapat membayangkan indahnya kisah ini.

“Ya. Karena ternyata, sekitar 20 tahun yang lalu, Syeikh Nazim pernah mendapat sebuah penglihatan, bahwa seorang Kristen akan datang kepadanya. Beliau berkata sudah banyak orang Kristen yang datang, tapi mereka bukanlah orangnya. Ini adalah hal yang sangat ditunggu2nya, karena well.. ini akan menjadi bagian dari..”

“Second coming of Christ.”

“Exactly. In the end of the days, Christ will come again into this world.”

“Muslim memang percaya itu.”

“ Ya. Di hari2 akhir, potensi yang ada di setiap manusia: kemurnian, enlightenment, Holy Grail, apapun kau memanggilnya, yang merupakan esensi dari Kristus sendiri, akan terbangkitkan lagi pada diri banyak orang. Kemurnian yang.. Father John sendiri, atau orde spiritualitas lain, usahakan untuk lahir dalam setiap muridnya.”

”Ck ck ck.. Lalu, ketika Father John akhirnya datang pada Syeikh Nazim, apa yang terjadi? Apa yang mereka bicarakan?” cerocos saya antusias.

”Oh.. they hardly speak at all..It was a.. Zen meeting..”

“Ceritakan pada saya, Father..”

“Itu adalah.. pertemuan dua garis besar. Dua sekolah mistik besar. Father John datang ke rumah Syeikh beberapa bulan selanjutnya, dan Syeikh Nazim sekonyong2 diam.. memperhatikan Father John.”

“Father John bertanya, ‘Kenapa Anda ngeliatin saya terus?’ dan sang Syeikh menjawab dengan galak, “I am reading you!!” Syeikh Nazim selalu memberikan tes ini kepada orang2 yang datang kepadanya, untuk mengetahui apakah orang itu adalah orang yang ditunggu2nya. Dan sepertinya, beliau telah menemukannya… Father John menjawab, “Bacalah saya, banyak orang melakukan itu tapi mereka tidak berhasil. Tidak ada apa2 dalam diri saya. I am empty.”

“Dan Syeikh Nazim pun sedikit terkejut dengan jawaban itu, beliau menjawab, “No, I am empty..!””

“I am empty too.. I am nothing..” jawab Father John lembut.

“ I am nothing too! I am empty!!” Syeikh Nazim masih menggebu2.

“ I am empty too.. I am.. crazy..” Father John sudah merasa sangat dekat dengan sang Syeikh.

“ I am crazy too! Hahaha.. We are both crazy!!” sang Syeikh kontan terkekeh2 pada orang2 di situ: ulama2 dan pendeta yang memenuhi ruangan itu, yang beberapa mengharapkan sebuah pembicaraan ’penting’ dan berbobot, tapi alas.. hanya dua orang ’gila’ di depan mereka.

”Dan begitulah sejak saat itu, mereka berdua duduk tidak terpisahkan, berpegangan tangan setiap saat. Seperti dua anak kecil bertemu sahabat yang sangat dicintainya. Father John suatu saat mempraktekkan doa praktikal kami di situ, dan Syeikh Nazim hanya dapat menyaksikan dengan mata berkaca2, “Oh..” Melihat entah apa mungkin turun dari langit..”

“I want to eat you! “ suatu saat sang Syeikh berkata. “Berarti kamu akan jadi Father John lain, hehehe..“ jawab Father John. “Berapa banyak pengikutmu yang dapat menelan dan mengapresiasimu sepenuhnya?? Berapa banyak pengikutmu yang tidak hanya mencintaimu tapi juga menjadi??“

(Seperti sebuah perkataan Zen: Instead of quoting the Buddha, be the Buddha! Even if you meet him in the street, kill him! (Dibandingkan menjadi keterikatan lain..))

Dan Father John pun kemudian akan menatap lekat2 dan memeluk Syeikh Nazim dengan erat, hampir menangis, ”Oh… God..God loves you so much ..!”

“Masya Allah..” saya cuma bisa geleng2 sepanjang cerita Father German. Keindahan tak terkatakan, ketika perbedaan pun bahkan tidak ada lagi. (Bagaimana bisa dikatakan berbeda, toh mereka hanya kekosongan..)

Saya ingat sebuah kisah lain, suatu hari di Jakarta ketika Syeikh Nazim datang ke sana pada tahun 2000, seorang murid dari Naqshbandiyya bertanya pada beliau di sebuah acara ceramah, ”Syeikh, bagaimana kita tahu di tingkatan mana kita berada? Kalau kita shalat ini dan itu, akan ada di mana kita? Jika kita melakukan ini atau itu, berapa tingkatan kita akan turun?” Dan dia terus berbicara dan bertanya tentang segala derajat dan posisi ini.. Hingga akhirnya, di akhir pertanyaan, jawaban Syeikh Nazim cuma satu, ”Kamu ini hamba tingkatan, atau hamba Tuhan?”

…..
”Kalau benar2 cinta, sembah aja Dia, peduli amat kamu siapa dan ada di mana kamu sekarang..”
Read More

Kenangan KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi

9 komentar :
 

Pimpin Doa dengan Infus di Tangan

RIBUAN orang menangis histeris. Ini terjadi ketika jenazah Hadratus Syekh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi dimasukkan ke liang lahat, kemarin. Kiai dengan wajah sejuk itu dikenal sebagai imam dan guru Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Al-Usmaniyah yang sedang digandrungi jamaah. Kehadirannya dalam setiap majelis dzikir selalu diharapkan. Doa yang dipanjatkan selalu ditunggu jutaan jamaah Tarekat di seluruh Indonesia, bahkan sampai Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand.

Kiai Asrori -demikian ia biasa dipanggil--kemarin dini hari menghembuskan nafas terakhir. Penyakit kanker yang menghinggapi tubuhnya sejak tiga tahun lalu menyebabkan ia harus menyerah ke Sang Khalik. Jenazah pimpinan Pondok Pesantren Al Fitrah, Kedinding, Surabaya ini dimakamkan di kompleks pondoknya sekitar pukul 11.00 WIB. Meski sudah sakit lama, namun mening­galkan kiai kharismatis ini tetap saja mengagetkan para santrinya.

Saya mengenal pimpinan tertinggi tarekat ini sudah sejak lama. Bahkan, namanya selalu disebut-sebut ayah saya yang memang juga penganut tarekat ini. Namun, baru mengenal secara pribadi setelah diperkenalkan KH Imam Sughrowadi saat berlangsung manaqib dan zikir kubro di pondok pesantrennya di Blitar, tahun 2005. Setelah itu, beberapa kali saya mengikuti pertemuan khusus dengan para santri setiap habis salat Jumat di kediamannya.

Mengapa para jamaah begitu kehilang­an kiai kharismatis ini? Selain ia adalah imam tertinggi thariqah yang memiliki jamaah terbesar di Indonesia ini, Kiai Asrori juga sangat mencintai jamaahnya. Ini ditunjukkan ketika berlangsung dikir akbar dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke 714, tiga tahun lalu. Seperti diketahui, sejak tahun 2006, di Balaikota Surabaya selalu digelar zikir akbar yang dipimpin Kiai Asrori. Ini menjadi tradisi puncak kegiatan hari jadi sejak tahun itu.

Nah, memasuki tahun kedua, Kiai Asrori mulai menderita sakit kanker darah. Beberapa hari menjelang acara berlangsung, ia harus masuk rumah sakit. Maka, zikir akbar di balai kota itu pun terancam berlangsung tanpa keberadaan Kiai Asrori. Sebagai antisipasi, panitia menyiapkan jalur khusus kursi roda menuju panggung utama untuknya. Baru pagi hari menjelang acara berlangsung, didapat kepastian Kiai akan hadir di majelis zikir tersebut.

Seorang santri dekatnya bilang, ketika itu Kiai memutuskan untuk hadir kare­na kasihan sama jamaah. "Mereka itu datang dari berbagai kota ingin melihat wajah saya, ingin mengamini doa saya. Karena itu, meski bagaimana pun saya harus datang agar mereka tidak kecewa,'' katanya seperti ditirukan santri tersebut. Akhirnya, Kiai Asrori hadir di majelis itu dengan memakai kursi roda dan infus di tangan.

Begitu selesai berdoa, kiai pamit pulang. "Mohon maaf, saya sudah tidak kuat. Saya mohon pamit dulu untuk beristirahat,'' katanya dengan berbisik kepada saya. Kehadiran kiai di majelis zikir dalam keadaan sakit itu membuat puluhan ribu jamaah yang hadir menangis. Saat itu, saya melihat Menkominfo Prof Dr Mohammad Nuh yang hadir dan sejumlah habaib serta para santri terdekatnya menyeka air mata. Belakangan, Kiai Asrori juga seirng menghadiri acara zikir meski masih dalam keadaan sakit.

Dalam haul Akbar terakhir di Ponpes Alfitrah Kedinding bulan lalu, Kiai Asrori juga memimpin sendiri doanya. Hanya saja, tabung alat bantu pernafasan selalu tersedia di sampingnya. Tampaknya, haul bulan lalu itu merupakan haul pamitan beliau kepada para jamaahnya. Setelah itu, sakit beliau semakin parah. Beberapa jam menjelang subuh kemarin, kanker darah telah mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya dalam usia 52 tahun.

Acara haul tahunan ini dihadiri ratusan ribu jamaah dari berbagai kota dan luar negeri. Para jamaah biasanya ditampung di rumah-rumah di sekitar pondok. Untuk makan para jamaah, juga disiapkan ratusan ribu bungkus nasi. Di antaranya juga merupakan sumbangan para warga di sekitar pondok. Pada haul ter­akhir kemarin, hadir ulama besar dari Makkah, Habib Umar Al-Jaelani.

Dia adalah cucu Syekh Abdul Qadir Jaelani, ulama yang menjadi panutan pa­ra penganut tarekat. Dalam setiap haul, kisah hidup ulama yang dipercaya sebagai wali Allah ini dibacakan. Kisah itu dikenal dengan kitab Manaqib. Manaqib ini dibaca bersamaan dengan salawat dan kisah-kisah Nabi Muhammad.

Kiai Asrori lahir di Surabaya, 17 Agustus 1957. Ini berarti meninggal sehari se­telah ulang tahunnya ke 52 kemarin. Dia adalah putra kiai besar di wilayah Surabaya utara, KH Usman Al-Ishaqi. Ayahnya juga seorang mursyid tarekat. Setelah menikahi Ibu Nyai Muthia Setiyawati, Kiai Asrori dikaruniai tiga orang putra dan dua orang putri. Putra terbesarnya kini masih studi di perguruan tinggi.

Kiai Asrori meninggalkan kita semua dalam usia yang relatif masih muda. Namun, ia telah berhasil menjadi panutan dari jutaan jamaah tarekat di berbagai nusantara dan negara-negara lainnya. Akankah lahir kiai pengganti beliau yang bisa menjadi penutan kita semua? Sungguh Kiai, kami pasti akan rindu dengan fatwa-fatwa dan wajah sejukmu.
Read More

Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi

8 komentar :
Orong-orong

Senin, 12 Oktober 2009
Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi

Tergelitik hati untuk menuliskan tentang pengalaman pribadi, bagaimana luar biasanya karomah yang dimiliki oleh KH. Asrori Al-Ishaqi r.a, setelah membaca buku "Karomah Para Kiai" oleh Samsul Munir Amin.


Karomah-atau dalam Bahasa Indonesia : keramat- memang suatu peristiwa yang sulit diterima akal pikiran manusia pada umumnya. Akan tetapi karomah sering dijumpai dalam berbagai literatur keagamaan, termasuk dalam berbagai literatur-literatur agama selain Islam.


Ada suatu peristiwa yang secara tidak langsung, menurut penulis buku sebagai karomah dari Habib Husein Alaydrus, yang saya pikir mungkin hampir mirip dengan yang pernah saya alami.


Hari itu, Minggu, seperti biasa ada pengajian ahad pagi di Pondok Pesantren As Salafi Al Fitrah, kediaman Romo Kyai Ahmad Asrori. Saya dan teman saya berniat untuk menghadirinya ketika itu. Dan kami pun berangkat dari kost-an kami menuju kesana dengan berboncengan sepeda motor.


Tidak berapa jauh kami dapati, ban belakang motor kempes, kami berpikiran kalau ban ini bocor tentu kami harus menambalnya dan akan perlu waktu yang agak lama, akibatnya kami akan ketinggalan ceramah Kyai Asrori.


Maka kami putuskan, untuk hanya menambah angin saja, mudah-mudahan cukup sampai di pondok, kalau memang ban itu bocor, setelah acara nanti ban itu baru ditambal.


Alhamdulillah, kami pun sampai dipondok dengan selamat, dan dapat mengikuti ceramah Kyai Asrori dari awal hingga akhir. Dan setelah acara berakhir kami pun pulang.


Dalam perjalanan pulang tidak ada tanda-tanda ban motor kempes, kami pulang dengan lancar. Sampai di kost-an, setelah kami ganti baju dan ngobrol-ngobrol di dekat motor itu, tiba-tiba "peessshhh", ban motor itu kempes, dan harus dibawa ke tukang tambal ban untuk ditambal.


Peristiwa itu, menurut saya, walaupun tidak secara langsung, merupakan bagian dari karomah Kyai Asrori Al Ishaqi r.a. Karena karomahnya kami berangkat dan pulang pengajian dengan lancar.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa aafihi wa'fuanhu....
Read More

Pidato Syekh Nazim Adil al-Haqqoni di Pesantren Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah “Suryalaya

Tidak ada komentar :
Blog Entry Pidato Syekh Nazim Adil al-Haqqoni di Pesantren Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah “Suryalaya pada tanggal 05 Mei 2001″ May 4, '09 9:30 AM
for everyone
Mursyid Kammil Mukammil Thoriqoh Naqsyabandi Al-Haqqani, As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani dan kholifahnya Syekh Hisyam Al-Kabbani berkunjung ke Mursyid Kammil Mukammil As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom ) sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah yang berada di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat Indonesia.

Syekh Nazim adil al-Haqqani berpamitan kepada Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom) untuk kembali ke Jakarta



Pidato Syekh Nazim Adil al-Haqqoni di Pesantren Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah

“Suryalaya pada tanggal 05 Mei 2001″
Banyak para alim ulama dan para cendikiawan muslim memberikan pengetahuan agama kepada umat, pengetahuan itu bagaikan lilin-lilin, apalah artinya lilin-lilin yang banyak meskipun lilin-lilin itu sebesar pohon kelapa kalau lilin-lilin itu tidak bercahaya. Dan cahaya itu salah satunya berada dalam kalbunya beliau ( Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin).

Saya tidak tahu apakah Nur Illahi yang dibawanya akan putus sampai pada beliau saja, atau masih akan berlanjut pada orang lain. Tapi saya yakin dan berharap, sesudah beliau nanti masih akan ada orang lain yang menjadi pembawa Nur Illahi itu.Siapakah orangnya, saya tidak tahu.

Maka Anda sekalian para hadirin, ambillah Nur Illahi itu dari beliau saat ini. Mumpung beliau masih ada, mumpung beliau masih hadir di tengah kita, sulutkan Nur Illahi dari kalbu beliau kepada kalbu anda masing-masing. Sekali lagi, dapatkanlah Nur Ilahi dari orang-orang seperti Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

Dari kalbu beliau terpancar pesan-pesan kepada kalbu saya. Saya berbicara dan menyampaikan semua pesan ini bukan dari isi kalbu saya sendiri. Saya mengambilnya dari kalbu beliau. Di hadapan beliau saya terlalu malu untuk tidak mengambil apa yang ada pada kalbu beliau. Saya malu untuk berbicara hanya dengan apa yang ada pada kalbu saya sendiri.”

Pidato Syekh Nazim diatas juga pernah dimuat di Majalah Sufi “Lilin-lilin tidak bercahaya”


Dan dibawah ini pidato yang diterjemahkan oleh KH.Wahfiudin yang telah mendampingi Syekh Nazim Haqqoni dan Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ( Abah Anom ) disuryalaya.

Diterjemahkan Oleh KH.Wahfiudin, M.B.A

(Wakil Talqin Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin r.a)

dan

(salah satu Muballigh di Tv-Tv Swasta)

1. Hamdalah, sholawat, do’a untuk seluruh yang hadir, maupun muslimin/muslimat seluruhnya.

2. Kalau saya berbicara dalam bahasa Inggris tentu hanya sedikit orang yang faham, maka saya membutuhkan perterjemah. Sebenarnya saya ingin berbicara panjang lebar, tetapi orang-orang yang hadir sudah letih menunggu dan punya kepentingan-kepentingan yang lain. Maka saya akan berbicara kurang lebih setangah jam saja.

3. Kita saat ini hidup di zaman sulit dan serba kekurangan. Kekurangan orang-orang yang kuat, kekurangan orang-orang yang memiliki iman, kekurangan orang yang memiliki cahaya (nur) ilahi. Padahal tanpa nur Ilahi, segala kepandaian yang dimiliki manusia menjadi tidak ada apa-apanya.

4. Banyak ‘ulama dan cendikiawan di berbagai madrasah dan mejelis ilmu mengajarkan macam-macam ilmu pengetahuan. Tapi ilmu pengetahuan itu hanya ibarat lilin-lilin kecil saja dan menjadi tak berguna tanpa adanya api yang membawa cahaya. Meskipun orang membuat lilin-lilin sebesar pohon-pohon kelapa, apa artinya lilin-lilin itu kalau tidak dapat menerangi. Maka selain mencari lilinya, cari pula apinya yang menimbulkan cahaya.

5. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Cahaya Allah disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. lalu meneruskannya kepada para Sahabatnya dan para sahabatnya meneruskannya lagi kepada generasi-generasi sholih berikutnya. Dari mereka cahaya itu terus tersalurkan kepada orang-orang yang “siap” dan “mau” menerimanya. Itulah para mursyid thoriqoh. Ada 41 thariqoh di dunia, 40 diantaranya memperoleh Nur Ilahi melalui Sayyidina Ali bin Abi Tholib KW. Hanya satu yang memperoleh Nur Ilahi melalui Sayyidina Abu Bakar as-Shadiq, itulah thariqah Naqsyabandiyyah.

6. Sekarang, tidak banyak lagi orang-orang yang membawa obor Nur Ilahi itu. Di Indonesia yang penduduknya banyak inipun, orang pembawa obor Nur Ilahi tidak lebih dari sepuluh jari tangan jumlahnya. salah satunya adalah Beliau yang ada disebelah saya, Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

7. Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin ini sudah berusia lanjut, dan sudah agak lemah keadaan fisiknya. Saya tidak tahu apakah Nur Illahi yang dibawanya akan putus sampai pada beliau saja, atau masih akan berlanjut pada orang lain. Tapi saya yakin dan berharap, sesudah beliau nanti masih akan ada orang lain yang menjadi pembawa Nur Illahi itu. Siapakah orangnya, saya tidak tahu.

8. Maka Anda sekalian para hadirin, ambillah Nur Illahi itu dari beliau saat ini. Mumpung beliau masih ada, mumpung beliau masih hadir di tengah kita, sulutkan Nur Illahi dari kalbu beliau kepada kalbu anda masing-masing.

9. Orang yang hidup di dunia tanpa Nur Illahi adalah orang yang buta. Dan (Syekh Nazim mengutip al-Qur’an), “Barang siapa yang didunia ini buta, maka di akhiratnya pun akan buta”. Sekali lagi, dapatkanlah Nur Ilahi dari orang-orang seperti Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

10. Beliau (Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin) nampaknya saja tertunduk dan tidur. Sebetulnya beliau tidak tidur. Dari kalbu beliau terpancar pesan-pesan kepada kalbu saya. Saya berbicara dan menyampaikan semua pesan ini bukan dari isi kalbu saya sendiri. Saya mengambilnya dari kalbu beliau. Di hadapan beliau saya terlalu malu untuk tidak mengambil apa yang ada pada kalbu beliau. Saya malu untuk berbicara hanya dengan apa yang ada pada kalbu saya sendiri.

11. Demikianlah apa yang saya perlu saya sampaikan kepada anda semua. (Lalu Syekh Nazim menutup pembicaraannya dengan tahlil, sholawat dan do’a). Saya tuliskan point-point ceramah Syekh Nazim ini berdasarkan sisa ingatan saya ketika mendengar dan menterjemahkan pidato beliau empat hari setelah kejadian, sepulang saya dari Medan. Tentu saja ada banyak kekeliruan ataupun kekurangannya. Saya mohon maaf, dan kepada Allah Swt., saya bersimpuh memohon ampun. Jakarta09 Mei 2001**
Read More

K A R O M A H MURSYID THORIQOH QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH SYEIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ‘ARIFIN RA (ABAH ANOM) May 4, '09 1:55 PM for everyone

2 komentar :









KAROMAH ABAH ANOM MENYADARKAN TANTANGAN KIAI SAKTI PILIH TANDING


Diterima dari mantan ketua Yayasan Pondok Pesantren Suryalaya Perwakilan Sumedang Bapak Etje Juardi beliau  menerima dari orang yang bersangkutan, Kiai Sakti.
Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti mandraguna tanpa pilih tanding, namanya Kiai Jured. Beliau sudah mengenal akan kemasyhuran dan ke Ulamaannya Abah Anom yang memiliki jutaan pengikutnya dan terus berkembang sampai keluar negeri.
Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.

Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka Beliau sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke madrasahnya bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai tersebut merasa kaget akan  kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu yang telah Beliau sediakan  di madrasah.
Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantrennya yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang kekurangan pesantrennya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Abah Anom  hanya tersenyum dan menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu diam seribu bahasa.
Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis, hal itu mengingatkan akan kejadian mujizatnya Rosulullah saw . Kiai itu sangat kagum akan karomah yang dimiliki Beliau dan merasa kesaktian yang dimiliki dan dibanggakannya itu sudah tidak ada artinya dihadapan Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom.
Benarlah ungkapan : “diatas langit ada langit”. Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang, Kiai merasa malu dan kalah lagi.
Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Beliau untuk memukulnya sebagaimana yang telah dicontohkannya.
Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa, yang bisa membelah itu adalah Allah, baiklah abah hanya minta kepada Allah itu pun kalo diizinkan,” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Mursyid dan batu itu menjadi air ,subhanallah…
Namun kiai tersebut masih penasaran karena kesaktiannya belum bisa mengalahkan karomah Beliau sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah. Kiai mencoba menguji lagi karomah Beliau dengan  kelapa yang telah dibawa santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Beliau agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan bentuk tertentu.
Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa . Seharusnya minta kepada Allah saja ,jangan kepada Abah. Hanya Allah lah yang bisa mewujudkan segala sesuatu karena Dia Maha Berkehendak dan Berkuasa”. Kiai itu masih penasaran akan permohonanya kepada Abah Anom, selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai. Subhanalllah…
Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit  burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau
Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Beliau sadar dan memohon maaf atas kesombongan dan kesalahannya. Akhirnya Kiai memohon kepada Beliau untuk diangkat menjadi muridnya dan menjadi seorang pengamal Thoriqat Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah .
Kiai itu ditalqin dzikir TQN (diajarkan dzikir Thoriqat Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah), dengan talqin dzikir itu menyadarkan akan adanya Allah Yang Maha Mengetahui akan perbuatan jahat makhluqnya baik lahir maupun batin dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah…
Read More

Kisah nyata Keajaiban Sholawat

7 komentar :
Pagi itu keluarga Achmad akan berangkat ke malang, naik pesawat terbang, mereka berempat, ayah, istri dan dua anaknya(Hasan dan Husein),Hasan kelas 5 SD, sedang Husein kelas 2 SD.
Pesawat bergerak naik seperti biasa aman2 saja, tiada kendala apapun. Dalam perjalananpun tiada hal yang dapat membuat hati was-was.
Tapi ketika pesawat akan sampai ditujuan, ingin mendarat, bandara tidak kellihatan, karena tertutup awan tebal, pramugari sudah memberikan aba-aba pada penumpang dengan kata2 yg masih diingat oleh Achmad ” Kita adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya”, seluruh penumpang kapal panik dan tegang, begitupun dengan Achmad, mulutnya terus berzikir karena mereka semua takut akan terjadi sesuatu dengan pesawat.
pesawat akhirnya memutar kembali mencari posisi aman untuk turun, ketika pesawat menukik lagi untuk turun, badan pesawat bergoyang hebat, sehingga barang-barang yg ada diatas berjatuhan, sungguh peristiwa yang sangat menegangkan, karena mereka semua sudah menyangka bahwa pesawat akan mengalami kecelakaan.
Ketika dalam keadaan yang sangat takut dan menegangkan, Hasan dan Husein berteriak-teriak membaca Sholawat dan puji-pujian kepada Rosulullah Saww, entah mengapa pesawat seperti ada yang menuntun menembus awan lalu terlihatlah bandara malang, pesawat dengan tenang mendarat.
Setelah pesawat mendarat dan semua penumpang akan turun, pilot keluar dari tempatnya mencari dan menanyakan “siapa tadi yang membaca Sholawat?” Hasan dan Husein tunjuk tangan “Saya pak!”, langsung pilot menghampirinya dan menyalaminya serta mengucapkan terima kasih, pilot itu berkata “tanpa kamu saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pesawat ini”. Rupanya si pilot seorang muslim, jadi ia tau bacaan sholawat.
Cerita ini adalah kisah nyata yang belum lama terjadi, sengaja saya turunkan, untuk mengambil hikmah, bahwa bila dalam keadaan genting atau ketakutan yang amat sangat, kita bisa memanggil Allah dengan perantaraan Nabi-Nya, yaitu seorang yang dicintai oleh Allah. Seandainya ada yang tidak percaya dengan cerita ini, itu hak anda, tapi peristiwa ini memang benar-benar terjadi.
Sumber http://www.facebook.com/note.php?note_id=319707945214

2 Comments so far

  1. nury on October 28th, 2009
    subhanallah,,,betapa indah nya hidup ini jika di isi dengan taat kepada Allah. yaitu, dengan cara berdzikir pada Allah dan sibuk bersholawat atas nabi saw. disetiap waktu disertai oleh kalbu yang iklas, jiwa yang bening, niat yang baik, dan perasaan cinta pada rasulullah saw. Allah memerintahkan untuk bersholawat atas nabi saw.”sesungguhnya allah beserta para malaikat Nya bersalawat atas Nabi saw. wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlah salawat dan salam atasnya. (Q.S Al Ahzab[33]:56)allahumma salli ala saidinna muhammad
  2. engkus on October 29th, 2009
    Kisah nyata diatas mengingatkan saya sepuluh tahun lau (1999). Kronologisnya persis seperti diatas, cuma waktu dan tempat kejadianya yang beda. Waktu itu saya dalam penerbangan Jakarta - Ternate untuk suatu tugas perusahaan, transit di Manado. Saya pikir akan memakai pesawat yang sama, eh…ternyata gati pesawat dengan tipe foker. Sewaktu take off pesawat mengalami guncangan hebat, tapi sudah diatas jadi tenang. Perjalanan dari Manado Ke Ternate sekitar satu jam, tapi sudah satu setengah jam masih belum tiba di Ternate. ternyata kendalanya karena gangguan cuaca. Pesawawt tidak bisa mendarat di Ternate karena cuaca buruk, akhirnya pesawat putar balik lagi ke Manado. Lama sekali pesawat berputar di atas Manado dan ternyata di Manado juga sudah tak bisa mendarat karena cuaca buruk tertutup awan tebal. Kepanikan semua penumpang makin menjadi tatkala pramugari sambil menagis berkata ” Kita pasrahkan jiwa ini kepada pemilikna “. Disaat itulah baru pertama kali saya merasakan ketakutan luar biasa. Sebisa mungkin saya memusatkan hati dan fikiran berdo’a kepada Allah Yang menggenggam segenap jiwa mahlukNya. Disaat itu saya berdo’a cuma satu, ” Yaa Allah, ikhlaskanlah hati ini menghadapi kematian dari sisiMU dan iringilah kematian saya bersama maghfirahMu, dengan haqnya nabiMu Muhammad saw. ” kemudian saya baca istighfar, sholawat dan dzikir didalam hati. Disaat itulah semua dosa2 saya terbayang didepan mata saya, saya berusaha memejamkan mata saya dan menundukan kepala dan sebisa mungkin mempersatukan hati, rasa dan fikiran saya menghadap kepada Allah Sang Pemilik jiwa. hati saya menjerit minta ampun kepada Allah dan waktu itu permohonan saya cuma satu ” ingin mati dalam husnul khotimah “, tidak minta diselamatkan dari bahaya maut.
    Entah berapa lama saya tenggelam dalam do’a dan dzikir, tiba2 terasa guncangan dan suara gemuruh dalam pesawat, saya pikir pesawatnya mau meledak, hati saya makin kencang makin fasih menyebut nama Allah dalam setiap detak jantung dan setiap hembusan nafas. ech…ternyata pesawatnya berhasil landing dengan selamat. Tak kuasa saya menahan tangis kemudian penumpang disamping kiri saya dipeluk peluk sambil menangis.
    Subhanallah, Allah telah menguji saya dan semua penumpang didalam pesawat itu dengan ketakutan dan ketegangan luar bisa. Berkat kepasrahan jiwa yang tulus, Allah menyelamatkan saya dan semua penumpang pesawat tersebut dari bahaya maut.
    Setelah keluar dari pesawat semua penumpang kelihatan pucat mungkin masih syok, termasuk saya perasaan belm begitu pulih. Kemudian saya cari wartel, saya telepon ke perusahaan saya dan saya lapor belum sampai ketempat tujuan, saya ceritakan kronologisnya. Akhirnya saya disuruh nginap di Hotel Century Manado dengan guarantee perusahaan. Saya nginap dihotel tersebut tapi tak bisa tidur nyenyak entah kenapa. Rupanya ujian belum selesai, ditengah malam saya dikejutkan dengan guncangan yang hebat didalam hotel seperti mau roboh, ditengah malam terjadi gempa yang hebat. Mulai saat itu saya tidak tidur lagi sampai besok paginya sampai terbang lagi berangkat ke Ternate, dari Ternate terus nyambung naik boat nyebrang ke Halmahera, dari pelabuhan Sidang Oli ganti lagi naik rental car perjalanan darat sekitar 3 jam baru nyampe ketempat kerja. masya Allah, begitu melelahkan.
Read More

Biografi Al-Habib Abdurrahman Bil Faqih

27 komentar :


Hampir seluruh waktu Habib Abdurrahman Bilfaqih dipergunakan dijalan dakwah dan mengajar di pesantren. Memang buah jatuh tidak jauh dari induknya. Sejal kecil, anak ketiga pasangan Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih dan Syarifah Azizah Al-Jufri ini ( lahir pada 16 Desember 1972 ) di didik orangtuanya di pesantren. Setelah agak besar, beliau melanjutkan ke PP Darus Surur Kabupaten Bandung, dibawah asuhan Abuya Yahya, murid tarekat Habub Abdul Qodir Bilfaqih, kakeknya, yang paling sepuh yang kini masih hidup.
Di pondok pesantren ini, Habib abdurrahman Bilfaqih belajar ilmu agama dan tarekat dari tahun 1988- 1993. Di masa belajar itu, beliau melangsungkan pernikahan dengan Syarifah Laila binti Utsman Alaydrus pada tahun 1991 dan menetap dengan isterinya di dekat pondok pesantren. Usai mondok di Darus Surur, beliau dan isterinya menetap di Indramayu, kota asal isterinya. Namun setahun kemudian, Habib Abdurrahman melanjutkan belajar lagi ke PP At-Tauhidiyyah Giren Talang Tegal, Jawa Tengah, di bawah asuhan Syaikh Akhmad Said dan Syaikh Muhammad Khasani. Beliau belajar disana selama lima tahun, 1994 - 2000.”Saya tertarik belajar di pesantren ini karena pesantren ini menitikberatkan pelajaran tauhid.

Pendirinya dulu, Syaikh Ubaidillah, sudah dikenal sebagai ahli kajian tauhid, sehingga mendapat undangan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Makkah pada abad ke-19, untuk bersama-sama membahas masalah tauhid bersama para ulama Timur Tengah waktu itu,” tuturnya. Selepas belajar di Tegal, beliau dipanggil pulang ke Malang untuk memperkuat Dewan Pengasuh PP Darul Hadits. Dewan Pengasuh terdiri dari semua anak Habib Abdullah Bilfaqih, yaitu dua kakak lelakinya ( Habib Abdul Qodir dan Habib Muhammad ), baru kemudian dirinya dan dua adik perempuannya ( Syarifah Ummu Hani dan Syarifah Khadijah ).
Namun karena sehari-hari tinggal di Indramayu,Jawa Barat, Beliau hanya beberapa hari datang ke Malang. Di Indramayu, Habib Abdurrahman mengasuh pesantren, yang diberi nama Ribath Rahmatul Muhammadiyah. Pondok pesantren yang beralamat di Jl. Nyi Resik RT 01 RW 01 Sindang Indramayu, Jawa Barat. “Menjadi santri disini gratis, yang penting bisa mencuci pakaian dan merawat kamarnya sendiri,” ujar ayah empat anak ini. Di pesantren itu, selain diajarkan ilmu agama, juga diajarkan tarekat tingkat dasar.
Dalam perjalanan dakwahnya, Habib Abdurrahman mendapati, umat Islam sekarang kurang memperhatikan pendidikan cinta dan mengikuti teladan Rosulullah SAW. “Saya gambarkan, dulu di zaman Rosulullah masih hidup, para sohabat cinta, tunduk, dan meneladani Rosulullah SAW. Mereka setiap hari bisa bertemu junjungan mereka, dan mendengar pelajaran maupun bertanya tentang hal yang mereka tidak ketahui. Namun bisakah kita sekarang memposisikan diri sebagai para sahabat, yang setiap hari cinta, tunduk, dan meneladani Rosulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari? Kalau kita ingin belajar dan bertanya , segeralah membaca A-lqur’an atau Hadits, atau bertanya kepada para ulama yang mengetahui kedua sumber Islam tersebut,” katanya.
Menurutnya, sikap seperti itu kini kurang diajarkan para ustadz kepada santrinya. Karena itulah, kaum muslimin sekarang memahami Islam sebagaimana dirinya dipengaruhi oleh budaya sekitar. Mestinya, kaum muslimin memahami Islam sebagaimana para sohabat mendapat bimbingan dari rosulullah SAW. ” Apa yang kita petik dari meneladani cara para sohabat belajar kepada Nabi Muhammad SAW ? Mereka tidak ada satupun yang murtad hingga akhir hayatnya, dan hidup mereka selalu diterangi cahaya Islam.
Dan saya yakin, semuanya masuk surga.”Disamping mempelajari kitab kuning dan Tarekat Awaliyah, Habib Abdurrahman juga menerapkan kepada santrinya, yaitu membiasakan mereka berpuasa Senin Kamis, kemudian puasa Nabi Daud (sehari puasa sehari tidak), dan terakhir puasa Dahr (puasa setiap hari,selain lima hari terlarang-yaitu ‘Idul fitri, Idul Adha, dan tiga hari setelah Idul Adha) Puasa ini dengan tujuan untuk membersihkan hati dan menghindar dari segala godaan yang sering muncul ketika kita tidak puasa.
Selain menjadi Ustadz di dua pesantren itu, Habib Abdurrahman masih menyempatkan diri belajar lagi di luar negeri. Tepatnya, pada tahun 2003 beliau belajar ke PP Darul Musthafa Tarim, yang di asuh oleh Habib Umar bin Hafidz. “Belia hanya tabarukan, sebab disana hanya 40 hari saja. Selain itu, beliau juga banyak berkunjung ke beberapa Habib sepuh, seperti Al-Maghfurlah Sayyid Muhammad Al-Maliki, Al-Maghfurlah Habib Abdurrahman Assegaf, Habib Zain bin smith, Habib Salim Asy-Syathiri, untuk mendapatkan ijazah beberapa aurad Alawiyin.
Tentu saja tidak hanya itu, dengan mendekatkan diri kepada para Habaib dan Ulama, banyak ilmu dan teladan yang diperoleh dari mereka. Setelah banyak belajar dari berbagai guru, saatnya Habib Abdurrahman mengajarkan apa yang telah didapatkannya. Selain memberikan kuliah umum kepada para santri Darul Hadits Malang, beliau juga mengasuh Ribath di Indramayu dan berbagai majlis ta’lim di berbagai kota.Pada malam Ahad pertama, pembacaan manaqib di majlis ta’lim Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf di Indramayu. Sedang pada malam Ahad kedua, pembacaan kitab fiqih yang diikuti ratusan jamaah. Ada juga jadwal di Bandung, yaitu pada malam Selasa awal bulan. Kemudian di Jakarta, ada beberapa tempat. Pada Rabu kedua setiap bulan di Masjid Al-Bahri di jl.D.I Panjaitan. Pada Kamis malam di ribath yang terletak di Pondok Bambu. Belum lagi ta’lim yang sifatnya undangan khusus yang diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia maupun luar negeri.
Istiqomah Berpuasa Dahr
Di tengah jadwal dakwah yang padat itu, Habib Abdurrahman mengamalkan puasa Dahr. Kebiasaan itu sudah berjalan sejak lima tahun lalu. Beliau merasa tidak berat, tetapi justru merasakan bahwa puasanya itu semakin mendukung kesehatan ruhani dan jasmaninya. Beliau mengaku tidak pernah terkena stres atau penyakit jasmani lainnya.
Read More

Cerita dari jamaah tentang Keajaiban di Majelis Rasulullah asuhan Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa

2 komentar :
Majelis Rasulullah memulai da’wahnya pada tahun 1998. Saya pernah mendengar istilah mantan HT, mantan JT, mantan PKS, mantan PDIP, mantan parpol A atau parpol B, mantan Salafy, dsb. Namun Alhamdulillah, belum ada yang berkata bahwa dirinya adalah mantan Majelis Rasulullah. Maaf saya menulis ini bukanlah untuk pamer atau promosi, akan tetapi hanya untu tahadduts bin ni’mah, insya Allah.
Mengapa mereka begitu betahnya 10 tahun bersama majelis ta’lim yang kerjanya cuma menabuh hadroh tiap malam? Bukannya berkurang, anggota Majelis Rasulullah semakin bertambah banyak, baik yang hadir di majelis fisik maupun secara virtual melalui internet.
Ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena mengagumkan seperti ini. Faktor utamanya tentulah adanya keridhoan Allah atas majelis ini. Bukti keridhoan Allah itu terbentang sepanjang perjalanan da’wah Majelis Rasulullah.
Percobaan Pembunuhan
Sudah beberapa kali Habib Munzir mengalami percobaan pembunuhan. Pernah mobil beliau dikejar-kejar dan ditabrak hingga keluar dari badan jalan. Alhamdulillah beliau selamat. Namun komplotan penabrak itu menghentikan mobil mereka dan keluar menghampiri mobil Habib Munzir. Maka terjadilah kejar-kejaran. Alhamdulillah Habib Munzir dan aktivis MR dapat selamat. Di lain waktu peristiwa seperti itu berulang.
Pernah juga beliau diracun dalam suatu perjamuan. Rupanya ada yang telah menyabotase hidangan bagi beliau. Beliau masuk rumah sakit dan dokter menyatakan beliau baru sembuh sekitar 8 tahun dari lumpuh, lalu beliau menelpon gurunya yakni Habib Umar bin Hafiz dan Habib Umar mengatakan beliau akan sembuh hanya dalam waktu 2 bulan dan ternyata Allah mengabulkan janji guru mulia Habib Umar bin Hafiz. Alhamdulillah Habib Munzir selamat dari racun berbahaya itu.
Awan Berbentuk Lafazh Allah
Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Ma’ruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.
Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.
Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke ‘Arasy.
Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, “Kasihan jama’ah. Mereka duduk di bawah terik Matahari.” Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.
Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jama’ah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ‘ALLAH’ dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).
Ketika Habib Munzir mengajak jama’ah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jama’ah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jama’ah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari itu.
Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jama’ah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya. (http://www.youtube.com/watch?v=j4SpIY8iFM8&feature=player_embedded)
Di Jumpai 10.000 Malaikat di dalam Mimpinya
Satu minggu setelah Kejadian besar di Monas, majelis rasulullah mengadakan tabligh setiap malam minggu, dan saat itu tabligh diadakan di kawasan menteng dalam, setelah habib munzir berceramah, beliau menyampaikan pesan, bahwa sebelum beliau sampai di majelis beliau bermimpi di bawa oleh 2 orang berwajah sangat terang dan berpakaian Aroby, 2 orang itu berkata “ikutlah dengan kami”, habib munzir bertanya “mau dibawa kemana saya”, 2 orang itu mengatakan akan membawanya kesatu tempat. Dan sesampainya di tempat itu habib munzir menceritakan kepada kami tempat itu mirip dengan sebuah stadium akan tetapi belum pernah dilihat sebelumnya, dan beliau ada di tengah-tangahnya bersama dengan 2 orang yang membawanya, dan beliau melihat disekitarnya dikelilingi orang yang bercahaya terus sampai tembus kelangit, bahkan beliau mengatakan kepada kami beliau sangat ketakutan melihat mereka, karena takut diapa-apakan. Kemudian 2 orang yang membawanya mengatakan “tahukah kamu siapa mereka? Mereka adalah para malaikat Allah yang akan hadir di majelis malam ini, mereka sudah berkumpul sejak pagi 10.000 di bumi dan 10.000 di langit. Akan tetapi beliau sangat rendah hati beliau berkata” ini adalah mimpi, boleh percaya, boleh juga tidak”. Akan tetapi bukankah mimpi orang sholeh itu nyata. Dan saya merasakan sendiri saat dzikir “Ya Allah 1.000X” nuansanya sangat mirip dengan kejadian agung di monas, cuaca tidak panas dan tidak dingin, sangat sejuk dan saya melihat ke atas langit begitu cerah tak ada awan sama sekali, namun anehnya tak terlihat satupun bintang, yang ada hanya selaput cahaya putih tipis, bahkan sangat tipis, namun mungkin cahaya inilah yang menghalangi cahaya bintang. Jamaah yang hadir saat itu mungkin merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan.
Ditemui Oleh Rasulullah
Inilah mungkin kejadian hebat yang rasakan selain kejadian Monas, pada saat malam pergantian tahun 2005 ke 2006, majelis di adakan di dekat stasiun manggarai di kediaman Ust.Ubaidillah. saat pergantian tahun dimana orang lain berpesta pora kami malah berkumpul untuk dzikir, setelah berceramah sampai kami menangis, habib munzir memimpin dzikir “Ya Allah 1.000X”, kejadian saat itu sangat mengharukan karena tepat jam 00.00. setelah dzikir selesai beliau berkata,”Ada yang sangat penting yang ingin aku katakan”, dan hal ini beliau rasa sangat penting. “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada waktu sebelum berangkat kesini, beliau SAW berkata kepadaku “Wahai Munzir sungguh Allah sangat menyukai apa yang kalian lakukan malam ini, dan hal ini sangat menyenangkan hatiku”.
Rasulullah dan Imam Abdullah Al-Haddad Pernah Hadir di Majelis ini
Sungguh hal yang mengejutkan kami, Nama majelis ini sudah di kenal sampai ke Sydney Australia. Padahal Habib Munzir belum pernah ke sana, dan tidak kenal dengan pemimpin ulama disana. Namun pada malam selasa, seorang ulama dari Australia dating ke majelis ini, dan beliau menyampaikan tausiah. Dan di akhir penyampaian beliau, beliau berkata ada yang ingin ku sampaikan dari istriku (hadir juga), istriku bermimpi bertemu dengan Rasulullah, dan beliau melihat Rasulullah berjalan dan hadir di majelis ini, karena itulah kami ingin hadir di majelis ini”. Nama ulama ini adalah Syekh Abdul Muis, dan ternyata beliau adalah pemimpin para ulama di seluruh Australia. Dan satu minggu setelahnya, majelis diadakan seperti biasa malam selasa, sebelum habib ceramah dibacakan qasidah habib Abdullah Al-Haddad dan saya merasakan nuansa sangat berbeda dari biasanya, saat ceramah memang habib berhenti sebentar, kemudian meneruskan. Baru setelah selesai beliau berkata, “Tadi Syekh Abdul Muis menyampaikan pesan, dari Istrinya bahwa beliau bermimpi melihat Imam Abdullah Al-Haddad berdiri diatas makamnya, dan berjalan, beliau bertanya “mau kemana ya Imam”, kemudian Imam Al-Haddad berkata “Aku ingin hadir di Majelis Rasulullah”.
Sembuh dari Kanker Otak
Pada akhir Agustus 2008, Habib Munzir diketahui menderita kanker otak. Dokter di RSCM telah angkat tangan. Namun beliau menghubungi Habib Umar Al-Hafizh, minta untuk didoakan. Alhamdulillah, kanker otak pun hilang seketika. Habib Umar juga menyampaikan, bahwa setelah itu, da’wah Majelis Rasulullah akan bertambah luas dengan cepat.
Mata dan Telinga yang Tajam
Kejadian ini nyata saya alami sendiri saat majelis di pejaten, saat itu saya agak di belakang dan di belakang saya ada orang tua dan anak-anak yang berkumpul dan bercanda, saya tidak dengar apa saja yang dikatakan oleh anak-anak itu, namun Subhanallah, beliau yang begitu jauh jaraknya dari kami sekitar 50m lebih mendengar dengan jelas, saat itu beliau sedang menyampaikan pelajaran dan berhenti sejenak dan mengerenyitkan keningnya (seperti kurang senang) dan berkata “Tolong para orang tua, anaknya di ajari adab”. Hal itu spontan mengejutkan kami semua, bahkan saya dan sahabat saya yang dekat dengan anak-anak itu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan. Saat ziarah di makam Habib Priok, saya bertanya dalam hati saya “bau apa ini, seperti kok kaya’ dukun saja”. Dan beliau langsung ambil pengeras suara dan berkata “Hadirin mungkin ada yang bertanya di hatinya bau apa ini, ini adalah wewangian kayu gaharu, yang biasa di pakai sejak zaman tabi’in untuk pengharum ruangan, karena waktu itu belum ada parfum ruangan seperti sekarang, dan ini bukan seperti praktek perdukunan, jadi jangan buruk sangka dahulu”. Masya Allah kaget sekali saya, karena malunya saya langsung mundur kebelakang.

Da’wah Lembut yang Melembutkan
Pernah Habib Munzir berbicara keras dalam suatu majelis. Maka sepulangnya dari majelis, Rasulullah datang menjumpai beliau (saya lupa, apakah dalam mimpi atau dalam jaga). Rasul berkata bahwa mereka adalah ummat Rasulullah, maka jangan lagi bicara keras terhadap mereka. Sejak saat itu, beliau berusaha untuk bicara penuh kelembutan. Da’wah lembut beliau semakin melembutkan hati jama’ah. Maka bertobatlah sejumlah preman, pezina, pengguna narkoba dan bergabung dalam cahaya kemulyaan setelah mendengarkan ceramah beliau yang terus memanggil hati-hati yang kelam akibat dosa-dosa yang menumpuk.
Bahkan pada tanggal 25 Desember 2007, beberapa Kristiani mendatangi rumah beliau untuk menyatakan ke-Islaman mereka. Hal ini terjadi tepat setelah tanggal 24 Desember 2007 malam, MR melafazhkan “Yaa Allahu” sebanyak 1000 kali untuk meredam kemurkaan Allah dari perkataan fitnah yang menyatakan bahwa Allah mempunyai putera.
Kelembutan hati Habib Munzir yang sering berjumpa Rasulullah baik dalam tidur maupun ketika terjaga telah mampu menembus kekerasan hati jama’ah dan melembutkan hati mereka. Maka semakin mereka merasakan manisnya khusyu, manisnya taubat, manisnya menyebut Asma Allah, manisnya sujud, manisnya ibadah, manisnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, manisnya rindu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manisnya kedekatan dengan Allah.
Habib Munzir tidak hanya mengajarkan ilmu syari’ah yang memenuhi aqal mereka. Tetapi ilmu syari’ah yang memenuhi hati mereka. Dari situlah terbit rasa kehambaan dan bukan adu ilmu. Dari situlah terbit rasa sayang dan bukan benci kepada sesama Muslim. Semakin sering mereka menziarohi Habib Munzir, semakin kuat cahaya kemulyaan itu mempengaruhi mereka. Malam demi malam, bagian-bagian hati mereka terobati. Bertambah kuat kesabaran mereka, bertambah redup kemurkaan mereka. Bertambah kuat kelembutan mereka, bertambah redup kekerasan mereka. Bertambah kuat tawadhu mereka, bertambah redup arogansi mereka.
Ilmu yang Bersambung
Ilmu yang diajarkan oleh Habib Munzir adalah ilmu-ilmu yang didapatnya secara bersambung dari guru-gurunya dari tabi’it tabi’in dari tabi’in dari shahabat dari Rasulullah dari malaikat Jibril dari Allah. Mungkin inilah salah satu hal yang menyebabkan Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Ikatan dalam keridhoan inilah salah satu hal yang menyebabkan mereka betah di Majelis Rasulullah. mengenai hal ini silahkan buka kategori sanad guru kami
Nasab beliau
Beliau pernah berkata, karena pernah ada yang bertanya tentang nasab/silsilah beliau.
“Terus terang saja catatan nasab saya ini saya kurang suka menampilkannya dan memamerkannya, karena belum pantas saya menyandang gelar keturunan Rasul saw, Yaa Allah.. betapa hinanya saya ini dan sangat jauh dari selayaknya keturunan Rasul saw.
Hamba penuh Dosa Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul saw.”
Read More

KH. Abdul Kholik Hasyim, Kyai Pendekar

Tidak ada komentar :
Senin, 30 Maret 2009 18:47:33 - oleh : uneiz
KH. Abdul Kholik Hasyim merupakan salah seorang pengasuh Tebuireng yang cukup disegani oleh masyarakat, karena memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Di bawah kepemimpinannya, intensitas pengajian kitab kuning di Tebuireng ditingkatkan, melalui bantuan kakak iparnya, Kiai Idris Kamali. Sebagai bekas tentara, Kiai Kholik menerapkan kedisiplinan yang cukup tinggi di Tebuireng.

Kelahiran dan Pendidikan
Abdul Kholik Hasyim dilahirkan pada tahun 1916 dengan nama kecil Abdul Hafidz. Beliau adalah putra keenam dari pasangan Kiai Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah.
Sejak kecil Abdul Kholik dididik langsung oleh ayahnya sendiri. Setelah dianggap mampu, Abdul Kholik melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren Sekar Putih, Nganjuk. Selepas dari sana, dia meneruskan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah, di bawah asuhan Kiai Kholil bin Harun yang terkenal sebagai pakar nahwu. Belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, Abdul Kholik melanjutkan studinya ke Pesantren Kajen, Juwono, Pati, Jawa Tengah.
Pada tahun 1936, dalam usia 20 tahun, Abdul Kholik pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di sana ia bermukim selama empat tahun sambil memperdalam ilmu pengetahuan. Salah seorang gurunya bernama Syekh Ali al-Maliki al-Murtadha.

Berkeluarga dan Berjuang
Pada tahun 1939, Abdul Kholik pulang ke tanah air. Setahun kemudian, ia menikah dengan salah seorang keponakan Kiai Baidhawi yang bernama Siti Azzah. Pada tahun 1942, Kiai Kholik dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Abdul Hakam. Inilah satu-satunya keturunan Kiai Kholik.
Selama masa revolusi fisik, Kiai Kholik aktif berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Sejak tahun 1944, atau satu tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Kiai Kholik masuk dalam dinas ketentaraan nasional. Dia menjadi anggota PETA.
Kiai Kholik merupakan orang dekat Jenderal Sudirman bersama kakaknya, Kiai Wahid Hasyim. Kiai Kholik mengundurkan diri dari militer pada tahun 1952 dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel (Letkol), kemudian pergi ke Makkah guna menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya.

Memimpin Tebuireng
Sepulang dari Makkah, Kiai Kholik mampir dulu ke Jakarta menemui Kiai Wahid Hasyim yang saat itu menjadi Menteri Agama. Di sana beliau membicarakan masalah kepemimpinan Tebuireng yang waktu itu dipegang oleh Kiai Baidlawi. Dalam pandangan Kiai Kholik, naiknya Kiai Baidlawi sebagai pimpinan Tebuireng telah merubah tradisi kepemimpinan pesantren yang biasanya diteruskan oleh putra pengasuhnya, bukan oleh menantunya.
Setelah dari Jakarta, Kiai Kholik mampir ke Desa Kwaron, Jombang. Di sana ia tinggal di rumah adiknya yang paling bungsu, Muhammad Yusuf Hasyim. Dari Desa Kwaron Kiai Kholik mengirim utusan ke Tebuireng untuk membicarakan masalah suksesi kepemimpinan Tebuireng dengan Kiai Baidhawi. Mendengar rencana tersebut, Kiai Baidhawi lalu menyerahkan kepemimpinan Tebuireng kepada Kiai Kholik.
Sejak awal kepemimpinannya, Kiai Kholik banyak melakukan pembenahan pada sistem pendidikan dan pengajaran kitab kuning, yang pada tahun-tahun sebelumnya digantikan dengan sistem klasikal. Langkah pertama yang diambilnya ialah meminta bantuan kakak iparnya, Kiai Idris Kamali (tahun 1953), untuk mengajar di Tebuireng. Kiai Idris diminta untuk mengajarkan kembali kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf, serta melakukan revitalisasi sistem pengajaran.
Dalam memimpin Tebuireng, Kiai Kholik terkenal sangat disiplin. Ini mungkin merupakan pengaruh tidak langsung dari jiwa militernya. Meskipun demikian, Kiai Kholik sangat hormat kepada Kiai Idris, karena dianggap lebih tinggi ilmu spiritualnya. Kiai Idris juga sangat dihormati oleh santri dan masyarakat. Sedangkan Kiai Kholik sebagai pemimpin formal Tebuireng, mengajar kitab-kitab tasawwuf.
Sedangkan Kiai Kholik sangat disegani masyarakat, karena memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Hampir setiap hari tamu-tamu berdatangan ke rumahnya, baik meminta doa-doa atau meminta syarat kesembuhan. Masyarakat percaya bahwa Kiai Kholik mewarisi kesufian dan kekaromahan Kiai Hasyim, sehingga beliau sering melakukan keajaiban-keajaiban tertentu. Konon, Kiai Kholik pernah menurunkan buah kelapa tanpa memanjatnya. Beliau cukup menggerakkan tenaga dari bawah, buah kelapa sudah berjatuhan. Kiai Kholik juga terkenal kebal senjata tajam. Saat terjadi peristiwa G30S PKI, Kiai Kholik memberikan amalan untuk kekebalan dan kesaktian kepada para santri dan masyarakat.
Pada masa penjajahan, Kiai Kholik pernah ditahan oleh tentara Belanda tanpa alasan yang jelas. Beliau dijatuhi hukuman mati. Keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi, Kiai Kholik meminta waktu kepada algojo untuk salat dua rakaat. Seusai salat, Kiai Kholik mengangkat tangan berdoa kepada Allah. Anehnya, setelah itu pihak Belanda menyatakan bahwa Kiai Kholik tidak jadi dihukum mati.
Selain terkenal memiliki karomah tinggi, Kiai Kholik juga memiliki kebiasaan mengoleksi kitab-kitab syair berbahasa Arab (semacam ontologi). Hal ini dapat dilihat dari kitab-kitab peninggalannya yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Tebuireng.
Pada masa Kiai Kholik, madrasah yang telah dirintis oleh para pendahulunya tetap dipertahankan. Saat itu Madrasah Tebuireng terdiri dari tiga jenjang, yakni Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SLTP), dan Mu’allimin. Kurikulumnya 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Pada masa ini pula, Madrasah Nidzamiyah yang dulunya didirikan oleh Kiai Wahid, berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi’iyah.

Polaritas Politik
Di bidang politik, pada masa kepemimpinan Kiai Kholik terdapat polaritas internal di kalangan pemimpin Tebuireng. Pertama, Kiai Kholik mendirikan partai Aksi Kemenangan Umat Islam (AKUI) tahun 1955 dan melarang segala aktivitas politik dan organisasi apapun di Tebuireng. Kedua, Kiai Karim (kakak Kiai Kholik) tetap konsisten menjadi anggota Masyumi. Ketiga, sebagian warga pesantren dan masyarakat Tebuireng mengikuti Partai NU. Padahal Kiai Kholik saat itu melarang segala kegiatan yang berbau NU. Segala aktifitas harus dilakukan di luar pondok. Di pondok hanya untuk ibadah dan mengaji.
Ketika Presiden Soekarno menjatuhkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kiai Kholik sebagai anggota Konstituante, menentang dengan keras. Dalam pandangannya, jalan musyawarah dan diplomasi masih bisa dilanjutkan. Kiai Kholik mendapat teguran keras atas penentangannya itu, sehingga partai AKUI yang didirikannya dibubarkan. Kiai Kholik kemudian keluar dari politik.

Berpulang ke Haribaan-Nya
Bulan Juni 1965, atau tiga bulan sebelum meletusnya pemberontakan G.30.S/PKI, Kiai Kholik menderita sakit selama beberapa hari. Semua keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Mereka semua mengharap kesembuhan sang pengasuh. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihadang. Beberapa hari setelah itu, Kiai Kholik menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna liLlahi wa inna ilayhi raji’un. Tebuireng pun berduka.
Sebagaimana keluarga lainnya, jenazah Kiai Kholik dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, diiringi ribuan peta’ziyah yang mengantarkannya hingga ke liang lahat. ()
Read More

KH. ACHMAD SHIDDIQ

Tidak ada komentar :
Ditulis oleh arif di/pada 14 April 2009
copy-of-kh-achmad-shiddiq_14rKH. ACHMAD SHIDDIQ
Kehidupan KH. Achmad Siddiq
KH. Achmad Shiddiq yang nama kecilnya Achmad Muhammad Hasan, lahir di Jember pada hari Ahad Legi 10 Rajab 1344 (tanggal 24 Januari 1926). Beliau adalah putra bungsu Kyai Shiddiq dari lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf. Achmad ditinggal abahnya dalam usia  8 tahun. Dan sebelumnya pada usia  4 tahun, Achmad sudah ditinggal ibu kandungnya yang wafat ditengah perjalanan di laut, ketika pulang dari menunaikan ibadah haji. Jadi, sejak usia anak-anak, Kyai Achmad sudah yatim piatu.
Karena itu, Kyai Mahfudz Shiddiq kebagian tugas mengasuh Achmad, sedangkan Kyai Halim Shiddiq mengasuh Abdullah yang masih berumur  10 tahun. Ada yang menduga, bahwa bila Achmad terkesan banyak mewarisi sifat dan gaya berfikir kakaknya (Kyai Mahfudz Shiddiq). Kyai Achmad memiliki watak sabar,tenang dan sangat cerdas. Wawasan berfilkirmya amat luas baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.
Kyai Achmad belajar mengajinya mula-mula kepada Abahnya sendiri, Kyai Shiddiq. Kyai Shiddiq sebagaimana uraian-uraian sebelumnya, dalam mendidik terkenal sangat ketat (strength) terutama dalam hal sholat. Beliau wajibkan semua putra-putranya sholat berjama’ah 5 waktu. Selain mengaji pada abahnya, Kyai Achmad juga banyak menimba ilmu dariKyai Machfudz, banyak kitab kuning yang diajarkan oleh kakaknya, Sebagaimana lazimnya putra kyai, lebih suka bila anaknya dikirim untuk ngaji pada kyai-kyai lain yang masyhur kemampuannya. Kyai Mahfudzpun mengirim Kyai Achmad menimba ilmu di Tebuireng. Semasa di Tebuireng, Kyai Hasyim melihat potensi kecerdasan pada Achmad, sehingga, kamarnya pun dikhususkan oleh Kyai Hasyim. Achmad dan beberapa putra-putra kyai dikumpulkan dalam satu. kamar. Pertimbangan tersebut bisa dimaklumi, karena para putra kyai (dipanggil Gus atau lora atau Non) adalah putra mahkota yang akan meneruskan pengabdian ayahnya di pesantren, sehingga pengawasan, pengajaran dan pembinaannyapun cenderung dilakukan secara, khusus/lain dari santri umumnya. Pribadinya yang tenang itu. menjadikan Kyai Achmad disegani ol eh teman-temannya. Gaya bicaranya yang khas dan memikat sehingga dalam setiap khitobah, banyak santri yang mengaguminya. Selain itu, Kyai Achmad juga seorang kutu buku/ kutu kitab (senang baca). Di pondok Tebuireng itu pula, Kyai Achmad berkawan dengan Kyai Muchith Muzadi. Yang kemudian hari menjadi mitra diskusinva dalam merumuskan konsep-konsep strategis, khususnya menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nandliyah, Fikroh Nandliyah, dan sebagainya.
Kecerdasan dan kepiawaiannya berpidato, menjadikan Kyai Achmad sangat dekat hubungannya dengan Kyai Wahid Hasyim.
Kyai Wahid telah membinbing Kyai Achmad dalam Madrasah Nidzomiyah. Perhatian Gus Wahid pada. Achmad sangat besar. Gus Wahid juga mengajar ketrampilan mengetik dan membimbing pembuatan konsep-konsep. Bahkan ketika Kyai Wahid Hasyim memegang jabatan ketua. MIAI, ketua NU dan Menteri Agama, Kyai Achmad juga yang dipercaya sebagai sekretaris pribadinya. Bagi Kyai Achmad Shiddiq, tidak hanya ilmu KH. Hasyim Asy’ari yang diterima, tetapi juga ilmu dan bimbingan Kyai Wachid Hasyim direnungkannya secara mendalam. Suatu pengalaman yang sangat langka, bagi seorang santri.
Ketokohan Kyai Achmad
Ketokohan Kyai Achmad terbaca masyarakat sejak menyelesaikan belajar di pondok di Tebuireng, Kyai Achmad Shiddiq muda mulai aktiv di GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia) Jember. Karirnya di GPII melejit sampai di kepengurusan tingkat Jawa Timur, dan pada Pemilu 1955, Kyai Achmad terpilih sebagai anggota DPR Daerah sementara di Jember. Perjuangan Kyai Achmad dalam mempertahankan kemerdeýkaan ‘45 dimulai dengan jabatannya sebagai Badan Executive Pemerintah Jember, bersama A Latif Pane (PNI), P. Siahaan. (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi). Pada saat itu, bupati dijabat oleh “Soedarman, Patihnya R Soenarto dan Noto Hadinegoro sebagai sekretaris Bupati. Selain itu, Kyai Achmad juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947. Saat itu Belanda. melakukan
Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa kesulitan membasmi PPPR, karena anggotanya adalah para Kyai. Agresi tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda sehingga muncullah Perundingan Renville. Renville memutuskan sebagai berikut:
1. Mengakui daerah-daerah berdasar perjanjian Linggarjati
2. Ditambah daerah-daerah yang diduduki Belanda lewatAgresi harus diakui   Indonesia.
Sebagai konsekwensinya perjanjian Renville, maka pejuang-pejuang di daerah kantong (termasuk Jember) harus hijrah. Para pejuang dari Jember kebanyakan mengungsi ke Tulung Agung. Di sanalah Kyai Achmad mempersiapkan pelarian bagi para pejuang yang mengungsi tersebut.
Pengabdiannya di pemerintahan dimulai sebagai kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di Situbondo. Saat itu di departemen Agama dikuasai oleh tokoh-tokoh NU. Menteri Agama adalah KH. Wahid Hasyim (NU). Dan karirnya di pemerintahan melonjak cepat. Dalam waktu singkat, Kyai Achmad Shiddiq menjabat sebagai kepala, kantor Wilayah Departemen Agama di Jawa Timur.
Di NU sendiri, karir Kyai Achmad bermula di Jember. Tak berapa lama, Kyai Achmad sudah aktiv di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur, sehingga di NU saat itu ada 2 bani Shiddiq yaitu: Kyai Achmad dan Kyai Abdullah(kakaknya). Bahkan pada Konferensi NU wilayah berikutnya, pasangan kakak beradik tersebut dikesankan saling bersaing dan selanjutnya Kyai Achmad Shiddiq muncul sebagai ketua wilayah NU Jawa Timur
Tetapi Kyai Achmad merasa tidak puas dengan kiprahnya selama ini. Panggilan suci untuk mengasuh pesantren (tinggalan Kyai Shiddiq) menuntut kedua Shiddiq tersebut mengadakan komitmen bersama. Keputusannya adalah Kyai Abdullah Shiddiq lebih menekuni pengabdian di NU Jawa Timur, sedangkan Kyai Achmad Shiddiq mengasuh pondok pesantrennya, Kyai Achmad Shiddiq termasuk ulama yang berpandangan moderat dan unik sebagai tokoh NU dan kyai, ia tidak hanya alim tetapi juga memiliki apresiasi seni yang mengagumkan. Beliau tidak hanya menyukai suara Ummi Kultsum, bahkan juga suka suara musik Rock seperti dilantunkan Michael Jackson. “Manusia itu memiliki rasa keindahan, dan seni sebagai salah-satu jenis kegiatan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan penilaian agama (Islam). Oleh karena itu, apresiasi seni hendaknya ditingkatkan mutunya. “Apresiasi seni itu harus diutamakan mutu dari seni yang hanya mengandung keindahan menuju seni yang mengandung kesempurnaan, lalu menuju seni yang mengandung keagungan.Selanjutnya Kyai Achmad memberikan penjelasan sebagai berikut, Seni itu sebaiknya :
1 . Ada seni yang diutamakan seperti sastra dan kaligrafi.
2. Ada seni yang dianjurkan seperti irama lagu dan seni suara.
3. Ada seni yang dibatasi seperti seni tari.
4. Ada seni yang dihindari seperti pemahatan patung dan seni yang merangsang nafsu
Dalam memberikan nama untuk anak-anak-nya, Kyai Achmad senantiasa mengkaitkan calon nama yang bernuansa seni dengan pengabdian atau peristiwa-penstiwa penting. Seperti kelahiran putranya yang lahir bersamaan dengan karimya sebagai anggota DPR Gotong-Royong, yaitu Mohammad Balya Firjaun Barlaman, demikian juga Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, lahir bertepatan dengan konferensi Asia Afrika.
Kyai Achmad menikah dengan Nyai H. Sholihah binti Kyai Mujib pada tanggal 23 Juni 1947, dan dikaruniai 5 orang anak,
yaitu:
1. KH. Mohammad Farid Wajdi (Jember)
2. Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi (Jember)
3. Hj. Fatati Nuriana (istri Mohammad Jufri Pegawai PEMDA Jember).
4. Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil), clan
5. KH. Farich Fauzi (pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah Kediri).
Nyai Sholihah tidak berumur panjang, Allah memanggilnya ketika putra-putrinya masih kecil. Sehingga keempat anaknya itu di asuh oleh Nyai Hj. Nihayah (adik kandung ketiga Nyai Sholihah). Melihat eratnya hubungan anak-anak dengan bibinya, maka Nyai Zulaikho (kakaknya) kemudian mendesak Kyai Achmad agar melamar Nihayah. Dan Kyai Mujib pun menerima lamaran tersebut. Pernikahan Kyai Achmad Shiddiq dengan Nyai Hj. Nihayah binti KH. Mujib (Tulung Agung)
memnpunyai 8 orang putra, yaitu:
1. Asni Furaidah (isteri Zainal Arifin, SE.)
2. Drs. H. Moh. Robith Hasymi (Jember).
3. Ir. H. Mohammad Syakib Sidqi (Dosen di Sumatra Barat)
4. H. Mohammad Hisyarn Rifqi (suami Tahta Alfina Pagelaran, Kediri).
5. Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, BA (istri Drs. Nurfaqih, guru SMA Jember).
6. Dra. Nida, Dusturia (istri Tijani Robert Syaifun Nuwas bin Kyai Hamim Jazuli).
7. H. Mohammad Balya Firjaun Barlaman (pengasuh PP. Al Falah Ploso Kediri).
8. Mohammad Muslim Mahdi (wafat kecil)
Aktivitas pengajian Kyai Achmad mendapatkan sambutan hangat di masyarakat. Pesan-pesan agama disampaikannya
dengan bahasa dan logika yang sederhana sehingga mudah dicerna. semua kalangan. Pengajian-pengajiannya dikemas secara khusus, seperti yang peruntukkan untuk masyarakat umum (kalangan awam) pada setiap malam senin sudah dirintisnya sejak tahun 1970-an dan tetap berlangsung hingga sekarang, Pengajian setiap malam Selasa, yang diperuntukkan bagi kalangan intelektual, sarjana, dosen dan tokoh-tokoh masyarakat membahas secara, kontemporer dan apresiatif kitab Ihyaý Ulumiddin karangan Imam Ghozali.
Pengajian-pengajian Kyai Achmad banyak bernuansa Tasawwuf. Ada 3 unsur utarna dari tasawwuf yang dapat menuntun seseorang untuk bertasawwuf dari tingkat rendah menuju peningkatan diri secara bertahap, yaitu:
1. Al Istiqomah: yang berarti; tekun, telaten, terus-menerus tidak bosan-bosan mengamalkan apa saja yang dapat diamalkan Mungkin baca Yasin tiap malam Jum’at, mungkin baca Istighfar sekian kali dalam setiap malam, dansebagainya.
2. Az Zuhd: yang berarti terlepas dari ketergantungan hati /batin dengan harta benda kekuasaan, kesenangan, dan
sebagainya, yang ada, di tangannya sendiri, apalagi yang ada di tangan orang lain. Tidak tergantung berbeda dengan tidak memiliki, berbeda, dengan tidak punya. Seorang “Zahid” bisa saja kaya, tetapi hatinya tidak tergantung pada
kekayaannya. Barang siapa yang tidak berputus asa karena sesuatu yang terlepas dari tangannya dan tidak bergembira,(melewati batas) dengan sesuatu yang diterimanya dari Allah maka dia sudah mendapatkan zuhud pada, kedua belahujungnya.
3. Al Faqir: artinya, selalu menyadari kebutuhan diri kepada Alýlah. Kesadaran yang mendalam dan terus-menerus, tentang “dirinya membutuhkan Allah” tidak selalu ada pada setiap orýang. Pada suatu saat kesadarannya, akan tinggi tetapi saat lain kesadarannya menurun.


Dzikrul Ghofilin


Pengajian malam Senin tersebut itu dinamakan “Majlis Dzikrul Ghofilin” yang artinya, majlis dzikirnya orang-orang lupa.Maksudnya orang-orang yang lupa adalah sifat relatif pada manusia yang selalu lupa. (agar selalu ingat Allah) sehingga perlu selalu diingatkan melalui Dzikir tersebut. Pada acara-acara tersebut, selain mengamalkan sholat tasbih, dzikir, KyaiAchmad biasanya mendahului menyampaikan ceramah agamanya.
Majlis Dzikrul Ghafilin yang dirintis pada awal tahun 1970-an tersebut 20 tahun berikutnya telah dilkuti oleh sekitar 20.000 orang Jamaah yang tersebar diseluruh Jawa, dan selanjutnya Jamaah pada setiap daerah mengembangkannya lebih lanjut dikawasan masing-masing.Secara historis, pada tahun 1973 Kyai Achmad mendapat ijazah dari Kyai Hamid untuk membaca Fatihah 100 kali setiap hari. Selanjutnya. Kyai Achmadmengadakan riyadlah di PPI. Ashtra beberapa tahun, baru setelah itu bacaan fatihah 100 kali dipadukan dengan bacaan lain untuk diwiridkan bersama-sama.
Kemudian cara mernbacanya bisa dibagi dan dicicil dengan ketentuan: Subuh 30 kali, Dhuhur 25 kali, Ashar 20 kali, Maghrib 15 kali dan Isya’ 10 kali. Dzikrul Ghafilin paling afdhal jika dibaca setelah sholat dan dibaca dengan hati yang talus ikhlas. Ada ceritera menarik antara Kyai Achmad dan Kyai Hamid: “Setiap memasuki tapal batas Pasuruan, Kyai Achmad selalu mengucapkan salam kepada Kyai Harnid. Ketika bertemu, Kyai Hamid menyatakan bahwa beliau selalu menjawab salam Kyai Achmad”.
Dzikrul Ghafilin yang namanya diambil dari Al-Qur’an surat Al-Aýraf 172 dan 265 menurut Kyai Achmad adalah wirid biasa, bukan wirid. thariqat. Jika tariiqat dengan bai’at, kalau tidak menegakkan pasti dosa, sedang dzikrul ghafilin adalah dengan ijazah. Pengamalannya tanpa menimbulkan efek camping dan isi bacaannya terdiri dari Al-Fatihah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Istighfar, Sholawat dan tahlil
Ada 3 orang Kyai yang ikut meramu bacaan-bacaan dalam dzikrul ghafilin, yaitu: KH. Abdul Hamid bin Abdullah(Pasuruan), KH. Achmad Shiddiq (Jember) dan KH. Hamim Jazuli (Gus Mik, Kediri). Bahkan menurut Gus Mik, ada tiga
tokoh lagi yang ikut andil dalam wirid dzikrul ghafilin, yaitu Mbah Kyai Dalhar (Gunung Pring Muntilan Magelang), Mbah Kyai Mundzir (Banjar Kidul Kediri), dan Mbah Kyai Hamid (Banjar Agung Magellang).
Tawashul bil Fatihah, dalam kitab dzikrul ghafilin ditujukan kepada:
1 . Rasulullah Muhammad Saw.
2. Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, Penjaga Arsy, dan Malaikat Muqorrobin.
3. Nabi-nabi dan Rasul-rasul
4. Ulul Azmi (Nabi Nuh As, Nabi lbrohim As, Nabi Musa As, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw)
5. Istri-istri Nabi (Siti Aisyah, Siti Hafsoh. Siti Sa’udah, Siti Shofiayh, Siti Maimunah, Siti Roulah, Siti Hindun, Siti Zainab,
dan Siti Zuwairiyah)
6. Putra-putri Nabi (Qosyim, Abdullah, Ibrohim, Fatimah, Zainab, Ruqoyyah dan Ummi kultsum).
7. Keturunan (Dzurriyah) Nabi saw.
8. KeluargaNabi saw.
9. Shahabat Nabi saw, khususnya Ahli Badar (yang wafat saat perang Badar, dari Muhajirin dan Anshor)
10. Pengikut Nabi saw yaitu para Syuhada’, ‘ulama, ‘auliya’, sholihin, mushonniffin, muallifin, Mbah-mbah, orang tua
(bapak dan ibu) dan orang-orang yang benar.
11. Nabi Khodliri Abi Abbas Balya bin Malkan As.
12. Sultonil’ Auhya’ Awwal yaitu:
a. Abi Muhammad Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib
b. Sayyidina Husein ra.
c. Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra.
d. Sayyidatina. Fatimah Az-Zahro ra,
13. Sayyid Syech Muhyiddin Abu Muhammad (Sultonil’ Auliyaý Syech Abdul Qodir Al-Jilani ra) bin Abi Sholih Musa
jangkadusat
14. Sayyid Syech Ali Muhammad Bahauddin Naqsabandi ra.
15. Sayyid Syech Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali ra.
16. Sayyid Syech Achmad Ghozali (adik Imam Ghozali)
17. Sayyid Syech Abi Bakar As-Syibbli ra.
18. Sayyid Syech Qutub Ghowtsi Habib Abdillah bin Alwi Haddad ra.
19. Sayyid Syech Abi Yazid Toymuri bin lsa Bustomi ra.
20. Sayyid Syech Muhammad Hanafi.
21. Sayyid Syech Yusuf bin Ismail A-Nabhani ra.
22. Sayyid Syech Jalaluddin As-Suyuti ra.
23. Sayyid Syech Abu Zakariya Yahya bin Sarafinnawawi ra.
24. Sayyid Syech Abdul Wahhab As-Syaroni ra.
25. Sayyad Syech Ali Nuruddin Asy-Syowni ra.
26. Sayyid Syech Abi Abbas Achmad bin Ali Al-Buni ra.
27. Sayyid Svech Ibrohim bin Adhama ra.
28. Sayyid Syech Ibrohim. Ad-Dasuqi ra.
29. Sayyid Syech Abu Abbas Syihabuddin Achmad bin Umar Anshori Al-Anshori Al-Mursiy
30. Sayyid Syech Sa’id Abdul Karim Al-Bushiri.
31. Sayyid Syech Abu Hasan Al-Bakri.
32. Sayyid Syech Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Buchoýri.
33. Sayyid Syech Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani.
34. Sayyid Syech Tajuddin bin Athoillah Al-Askandari ra.
35. Mazhab Ernpat, Khususnya:
a Sayyid Syech Imam Muhammad bin Idris As-Syafiýi
b. Sayyid Syech Abu Hafsin Umar As-Suhrawardi
c. Sayyid Syech Abi Madyan
d- Sayyid Syech Ibnu Maliki Al-Andalusi
e. Sayyid Syech Abu Abdulloh Muhammad bin SulaimanAlý Jazuli
f Sayyid Syech Muhyiddin bin Al-Arabi
g. Sayyid Syech Imon bin Husayni ra.
36. Al Qutub Al Kabir Sayyid Syech Abdussalam 1bnu Masyisyi
37. Sayyid Syech Abu Hasani. Ali bin Abdillah bin Abdul Jabbar As-Syadzi1i
38. Sayyid Syech Abi Mahfudz Ma’ruf Al-Karkhiy
39. Sayyid Syech Abi Hasani Sari As-Saqofi
40. Sayyid Syech Abu Qosim Al-Imam Junaidi Al-Baghdadi
41. Sayyid Syech Abu `Abbas Ahmad Badawi
42. Sayyid Syech Abu Husain Rifa’i
43. Sayyid Syech Abu Abdillah Nu’ man
44. Sayyid Syech Imam Hasani bin Abu Hasani Abi Sa’id Bashri
45. Sayyidati Robi’ah Al-Adawiyah ra.
46. Sayyidati Ubaidah binti Abi Kilab ra
47. Sayyid Syech Abu Sulaiman Ad-Daroni ra
48. Sayyid Syech Abu Abdillah Al-Harits bin Asadi Al-Muhasibi ra.
49. Sayyid Syech Abi Faydl dzinnun Al-Misry ra,
50. Sayyid Syech Abi Zakariyya. Yahya bin Mu’adz Ar-Rozy ra
51. Sayyid Syech Abi Sholih Hamdun an-Naisabur.
52. Sayyid Syech Husaini bin Mansur Al-Hallaj ra.
53. Sayyid Syech Jalaluddin Ar-Rumy ra.
54. Sayyid Syech Abi Hafsin Syarafiddin Umar bin Farid Al- Hamawiy Al-Mirsi ra.
55. Ikhwan Dzikrul Ghafilin
56. Orang yang hidup dan mati baik itu:
a. Orang-orang shalihin
b. Auliya Rijalillah
c. Orang-orang yang Arif
d. Ulama Amilin
e. Para Auliya Jawa dan Madura khususnya Wali Songo
f. Kaum Sufi Muhaqiqin
Tentang “Tawassul”, Kyai Achmad memberikan penjelasan bahwa do’ a tawashul ada dua macam:
1. Doa yang harus “dikatrol”, yaitu. Yaitu orang yang tidak faham dan tidak maqbul do’ anya akan dikatrol (ditolong) oleh orang faham dan khusyu’ dalam berdo’a Hal ini sama dengan sholat berjama’ah tersebut. Bila salah satu diterima amal sholatnya maka diterima semua yang berjama’ah tersebut. Karena itu sholat berjama’ah lebih baik dari sholat sendiri. Bahkan Imam Hambali menghukumi Fardlu Ain. Ada Hadits Nabi sebagai berikut: “Nabi didatangi seorang sahabat. Sahabat menyampaikan bahwa ia sering lupa do’a yang sudah diajarkan Nabi. Lalu Nabi mengatakan, “Bacalah do’a dibawah ini” maka nilainya sama”. “Ya Allah aku tidak tabu apa yang di doakan oleh Nabi Tapi aku juga ikut mohon doa itu. Dan apa yang diminta Nabi untuk dijauhkan dari bahaya, aku juga mohon ya Allah”.
4. Doa yang bersifat “dorongan” yaitu: orang yang berdoa tidak maqbul karna jiwanya tidak bersih, sehingga perlu didorong atau di amini oleh orang yang maqbul doanya dan bersih hatinyaýAda hadits sebagai berikut “Ada tiga orang
sahabat yang sedang berzikir di masjid. Salah satunya adalah Abu Hurairah yang masih muda usia. Lalu masuklah Nabi sambil bersabda: berdoalah kamu dan aku mengamininya. Satu persatu mereka berdoa dan di amini oleh Nabi. Giliran ketiga pada Abu Hurairah berdoa sebagai berikut: “Ya Allah semua yang diminta sahabat yang pertama, aku mohon
juga. Begitu pula yang diminta sahabat yang kedua aku mohon juga Sekarang aku mohon untuk diriku sendiri. Ya Allah sejak kecil aku ini pelupa, aku mohon agar dapat hafal semua yang diajarkan Nabi”. Doa Abu Hurairah inipun di amini Nabi, maka sejak itulah la menjadi penghafal/perawi Hadits terbanyak. Ini karena dorongan amin Nabi yang langsung diterima Allah”.
Pengajian Dzikrul Ghafilin ini semakin lengkap dan dilkuti oleh ribuan muslimin/muslimat, setelah digabung dengan sema’an Al-Qur’an Mantab” yang dirintis oleh Gus Mik, dan kini dikoordinasi oleh KH. Farid Wajdi (putra Sulung Kyai Achmad). Pengajian “Dzikrul Ghafillin dan Istima’ul Qur’an” ini tidak hanya dilakukan di Jember, bahkan hampir semua Kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah (ternasuk Kraton Yogya dan kantorýkantor pemerintah pun) sudah mengadakan kegiatan ini secara rutin. Kedekatan KH. Achmad Shiddiq dengan Gus Mik tidak hanya pada penggabungan Dzikrul Ghofilin dengan sema’ an Qur’ an Mantab saja. Bahkan eratnya hubungan itu terikat rapat setelah kedua tokoh itu “besanan”. Putra Kyai Achmad (Gus Hisyam Rifqi) menikah dengan putri Gus Mik (Tahta Alfina Pagelaran) sedang Ning Nida Dusturia (Putri Kyai Achmad) Dinikahkan dengan Gus Robert Syaifun Nuwas (putra Gus Mik), lebih dari itu Gus Firjaun (putera Bungsu Kyai Achmad) menikah dengan Ning Sofratul Lailiyah (Ponaan Gus Mik). Dengan dzikrul ghafilin Kyai Achmad berikhtiar menciptakan suasana religius guna membentengi masyarakat dalam memasuki kehidupan modern, karena modernisasi menurut Kyai Achmad cenderung membawa mudirrunisasi. Yakni suatu proses yang mengarah kepada sesuatu yang memudharatkan, sehingga pengembangan suasana religius merupakan kondisi yang harus mendapatkan prioritas.
Bintang Kyai Achmad
Pada Munas Ulama NU di Situbondo pada bulan Desember 1983, KH. Achmad Shiddiq menjelaskan makalahnya tentang “Penerimaan Azas Tunggal Pancasila bagi NU”. Beliau menyampaikan pokok-pokok fikiran dan berdialog tanpa kesan apolog: Beliau ungkap argumentasi secara mendasar dan rasional dari segi agama, historis maupun politik. “Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan
dipertentangkan”,kata Kyai Achmad. Lebih lanjut ditegaskan: “NU menerima Pancasila berdasar pandangan syariýah. bukan semata-mata berdasar
pandangan politik. Dan NU tetap berpegang pada ajaran aqidah dan syariat Islam. Ibarat makanan, Pancasila itu sudah kita makan selama 38 tahun, kok baru sekarang kita persoalkan halal dan haramnya katanya setengah bergurau penuh diplomatik. Sungguh luar biasa, ratusan kyai yang sejak awal menampik Pancasila sebagai satuý-saatunya Azas organisasi, berangsur-angsur berobah sikap dan menyepakatinya. Sejak saat itulah, sejarah mencatat NU menjadi ormas keagamaan yang pertama menerima Pancasila sebagai satu-satunya Azas. Nama Kyai Achmad melejit bak “Bintang Kejora”, dalam Munas NU itu. Dan tak heran, dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo itu, Kyai Achmad Shiddiq terpilih sebagai Ro’is Aam PBNU, sedang KH. Abdurrahman Wahid sebagai KetuaUmum Tanfidziahnya, bentuk pasangan yang, ideal. Duet Kyai Achmad dan Gus Dur temyata marnpu mengangkat pamor NU ke permukaan. Beberapa. kali NU bisa selamat ketika menghadapi setiap persoalan besar dan pelik berkat kepemimýpinan keduanya. Semisal goncangan, ketika Kyai
As’ ad yang kharismatik mengguncang NU dengan sikap mufaroqohnya terhadap kepemimpinan Gus Dur. Dalam Munas NU di cilacap tahun 1987, Kyai As’ ad menginginkan Gus Dur dijadikan agenda Munas, dan diganti. Namur demikian, Kyai Achmad Shiddiq dan Kyai Ali Ma’shum tampil membelanya. Kyai Achmad dalam posisi sulit dan menentukan itu mampu meyakinkan warga NU untuk tetap kukuh dengan khittah NU 1926. Pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada tahun 1989 Kyai Achmad menegaskan pendiriannya tentang Khittah. “NU ibarat kereta, api, bukan taksi yang bisa, dibawa, sopirya, ke mana, saja. Rel NU sudah tetap”, ujarnya bertamsil.Dengan tamsil ini pula Muktamar Yogyakarta dapat mempertahankan duet Kyai Achmad dengan Gus Dur. Dan kepulangan Kyai Achmad dari Muktamar Yogyakarya, Kyai Achmad sakit Diabetes Melitus (kencing manis yang parah). Kyai Achmad dirawat di RS. Dr. Sutomo, Surabaya. “Tugasku di NU sudah selesai”, kata Kyai Achmad Shiddiq pada rombongan PBNU yang membesuknya di RSU Dr. Sutomo, Ternyata isyarat itu benar. Tanggal 23 Januari 1991, Kyai Achmad Shiddiq wafat. Rois Aam PBNU yang berwajah sejuk itu menanggalkan beberapa jabatan penting:
1. Anggota DPA (Dewan Pertimbanzan Agung)
2. Anggota BPPN (Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional) KH Achmad Shiddiq dimakamkan di kompleks makam Auliya, Tambak Mojo, Kediri. Di makam itu juga sudah dimakamkan 2 orang Auliya sebelumnya. “Aku seneng di sini Besok kalau aku mati dikubur sini saja”, wasiat Kyai Achmad pada istri dan anak-anaknya. Walaupun berat hati karena jauh dari Jember, keluarganya pun merelakannya sebagai penghormatan pada bapak yang sangat di cintainya
Ribuan muslimin dan muslimat melayat ke pemakaman Kyai Achmad Shiddiq. Jenazah terlebih dulu disemayamkan di rumah duka (kompleks Pesantren Astra. Talangsari) dan keesok harinya, barulah beriring-iringan mobil yang berjumlah seratus itu mengantarkannya di tempat yang jauh, tetapi menyenangkannya. Sang Bintang Kejora itu jauh dari Jember tetapi sinarnya tetap cemerlana dari pemakaman Tambak nun jauh. Sekitar 5 tahun setelah wafatnva, tepatnya pada tanggal 9 Nopember 1995, Kyai Achmad masih mendapatkan penghargaan “Bintang Maha Putera NARARYA, dari Pemerintah dan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional Mantan
Tokoh NU (Sumber ; Buku Biografi Mbah Shiddiq)
Read More
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan ( Atom )

email updates

Like us on facebook

Pengantar Syekh Nazim Adil al-Haqqani qs
Nasihat Mawlana kita yang tercinta, Sheikh Nazim Adil Haqqani Ar Rabbani 1996
Perubahan yang Kita Butuhkan
intermezzo mawlana syaikh nazim
mastnawi

Popular Posts

  • Biografi Al-Habib Abdurrahman Bil Faqih
    Hampir seluruh waktu Habib Abdurrahman Bilfaqih dipergunakan dijalan dakwah dan mengajar di pesantren. Memang buah jatuh tidak...
  • THE INTEREST WITHOUT THE CAPITAL
    The lover's food is the love of the bread; no bread need be at hand: no one who is sincere in his love is a slave to existence. Love...
  • The Divani Shamsi Tabriz, XIII
    This is love: to fly toward a secret sky, to cause a hundred veils to fall each moment. First, to let go of live. In the end, to take ...
  • Kisah nyata Keajaiban Sholawat
    Pagi itu keluarga Achmad akan berangkat ke malang, naik pesawat terbang, mereka berempat, ayah, istri dan dua anaknya(Hasan dan Husei...
  • Kenangan KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi
      Pimpin Doa dengan Infus di Tangan RIBUAN orang menangis histeris. Ini terjadi ketika jenazah Hadratus Syekh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi ...
  • Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi
    Orong-orong Senin, 12 Oktober 2009 Karomah KH. Asrori Al-Ishaqi Tergelitik hati untuk menuliskan tentang pengalaman pribadi, bagaimana ...
  • Maulana Syaikh Naqsyabandy
      Maulana Syaikh Naqsyaband, Imam ut Thariqah adalah Pir. Pir berarti Imam. Imam berarti Tiang. Dia adalah Tiang utama Tarekat kita. Semoga...
  • Poem Love Rumy
    Because I cannot sleep I make music at night. I am troubled by the one whose face e has the color of spring flowers. I have neither slee...
  • Prediksi Sufistik, Armageddon Perang Nuklir 8
     PERANG NUKLIR ARMAGEDDON 8 Prediksi Sufistik Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani Imam Mahdi dan NABI ISA AS Yesus Kristus, Sang Juru Se...
  • Karomah KH Ahmad Muzzaki Syah
    Dalam kesehariannya, kehidupan Kyai Ahmad Muzakki Syah  sangat bersahaja. Dia tidak pernah menonjolk...

Blog Archive

  • 2009 (57)
    • Oktober (21)
    • November (36)
  • 2012 (6)
    • Januari (6)
      • Poem Rumy
      • Maulana Syaikh Naqsyabandy
      • LOVER (Rumy)
      • Poem Love Rumy
      • The Divani Shamsi Tabriz, XIII
      • THE INTEREST WITHOUT THE CAPITAL

© Attar Van Rumy 2013 . Powered by Bootstrap , Blogger templates and RWD Testing Tool